Makanan Kegemaran Para Raja Majapahit: Dari Wajik Kesukaan Raden Wijaya hingga Rujak Favorit Tribhuwana
Seringkali kita membayangkan bahwa kehidupan para raja Majapahit hanya dipenuhi dengan urusan politik, perang, dan upacara kenegaraan. Namun, prasasti dan kakawin yang ditemukan para arkeolog membuka tabir baru: para raja Majapahit ternyata juga memiliki kegemaran "ngemil". Dari Raden Wijaya, pendiri kerajaan, hingga Tribhuwana Tunggadewi, ratu yang memerintah bersama Gajah Mada, mereka semua memiliki makanan favorit yang tercatat dalam sejarah.
📜 SUMBER-SUMBER SEJARAH
Informasi tentang makanan kegemaran para raja ini bukan sekadar dongeng. Ia tercatat dalam berbagai sumber sejarah:
- Prasasti Parada — Menyebut rujak sebagai hidangan istana
- Prasasti Sangguran — Mencatat dodol sebagai makanan yang disajikan dalam upacara kerajaan
- Kakawin Ramayana — Menyebut tape ketan sebagai camilan favorit para pujangga dan bangsawan
- Kakawin Nawaruci — Mendokumentasikan wajik sebagai jajanan khas Majapahit
- Kidung Korawasrama & Kakawin Smaradahana — Menyebut lepet dan agar-agar sebagai kudapan istana
👑 RADEN WIJAYA DAN WAJIK
Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, konon sangat menyukai wajik. Camilan manis dari ketan dan gula merah ini menjadi favoritnya sejak masa-masa pelarian sebelum berhasil mendirikan kerajaan. Dalam Kakawin Nawaruci, wajik disebut sebagai makanan yang sering dihidangkan di istana.
Teksturnya yang pulen dan rasanya yang manis dipercaya memberikan energi bagi Raden Wijaya saat menyusun strategi menggulingkan Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol. Hingga kini, wajik masih menjadi camilan yang mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, membuktikan bahwa cita rasa yang enak tidak akan lekang oleh waktu.
👑 KERTANEGARA DAN TAPE KETAN
Sebelum Majapahit berdiri, ada Kertanegara, raja terakhir Singhasari yang juga kakek dari Raden Wijaya. Dalam Kakawin Ramayana, disebutkan bahwa tape ketan menjadi salah satu camilan favorit di istana. Proses fermentasi yang mengubah ketan menjadi tape ini menunjukkan bahwa leluhur kita telah menguasai teknologi bioteknologi sederhana sejak abad ke-13.
Rasa manis kecut yang khas dari tape ketan konon menjadi kegemaran para bangsawan, termasuk Kertanegara yang dikenal sebagai raja yang juga seorang penganut Buddha Tantrayana yang mendalami spiritualitas. Mungkin tape ketan menjadi teman semedinya di malam-malam sunyi.
👑 JAYANEGARA DAN DODOL
Jayanegara, putra Raden Wijaya yang naik takhta setelah ayahnya wafat, konon sangat menyukai dodol. Dalam Prasasti Sangguran dan Kakawin Ramayana, dodol disebut sebagai makanan yang sering disajikan dalam upacara-upacara istana.
Yang menarik, dodol kini justru lebih dikenal sebagai oleh-oleh khas Garut, Jawa Barat. Ini membuktikan bahwa budaya kuliner Nusantara telah menyebar luas sejak berabad-abad lalu, dibawa oleh para pedagang, diplomat, atau mungkin para bangsawan yang bepergian antar wilayah.
👑 TRIBUWANA TUNGGADEWI DAN RUJAK
Ratu Tribhuwana Tunggadewi, ibunda Hayam Wuruk dan penguasa Majapahit ketiga, memiliki kegemaran yang agak berbeda. Ia lebih menyukai rujak. Dalam Prasasti Parada, rujak disebut sebagai salah satu santapan segar yang disajikan di istana.
Campuran buah-buahan segar dengan sambel petis atau gula merah menjadi pilihan tepat untuk melepas dahaga di tengah teriknya matahari Jawa. Mungkin di sela-sela kesibukannya memerintah bersama Gajah Mada dan mempersiapkan Hayam Wuruk menjadi raja besar, Tribhuwana menyempatkan diri menikmati rujak di taman istana.
👑 GAJAH MADA DAN JADAH
Meski bukan raja, Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit juga memiliki tempat khusus dalam sejarah kuliner. Konon ia sangat menyukai jadah, penganan dari ketan yang dihaluskan dan dibentuk lempengan. Teksturnya yang kenyal dan rasanya yang gurih cocok untuk menemani perjalanan panjang sang patih dalam upaya menyatukan Nusantara.
Jadah menjadi bekal praktis yang tidak mudah basi, cocok untuk para prajurit yang melakukan ekspedisi jauh. Mungkin sambil merencanakan strategi penaklukan, Gajah Mada mengunyah jadah sambil memandangi pula-pula yang akan ditaklukkannya.
👑 HAYAM WURUK DAN LEPET
Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit, konon sangat menyukai lepet. Dalam Kidung Korawasrama dan Kakawin Smaradahana dari abad ke-12, lepet disebut sebagai kudapan yang sering dinikmati para bangsawan. Hayam Wuruk, dengan segala kemegahan istananya, ternyata memiliki selera yang sederhana: lepet dan agar-agar.
Mungkin di sela-sela perjalanan kelilingnya yang tercatat dalam Nagarakretagama, sang raja menyempatkan diri menikmati lepet di lereng-lereng gunung, ditemani para punggawa dan pujangga istana.
📖 PESAN DARI MASA LALU
Dari Raden Wijaya hingga Hayam Wuruk, dari Tribhuwana hingga Gajah Mada, kita belajar bahwa para penguasa Majapahit adalah manusia biasa yang juga menikmati kesenangan sederhana. Mereka tidak hanya sibuk dengan perang dan politik, tetapi juga menghargai momen-momen kecil: menikmati wajik di pagi hari, mengunyah jadah di perjalanan, atau menyantap rujak di sore hari.
Yang lebih menakjubkan, semua makanan ini masih bisa kita nikmati hingga hari ini. Ketika kita makan wajik, kita sedang merasakan makanan yang sama yang pernah dinikmati Raden Wijaya. Ketika kita menyantap rujak, kita sedang menikmati kesegaran yang sama yang dirasakan Tribhuwana. Rasa itu menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan leluhur, melintasi waktu lebih dari 700 tahun.
📚 REKOMENDASI BUKU
Bagi yang ingin mendalami lebih jauh tentang sejarah Nusantara, video ini juga menyebutkan buku "Rahasia Nusantara" terbitan ASISI Channel. Buku ini memuat reportase sejarah dan catatan perjalanan ke berbagai candi, yang dapat menjadi referensi bagi para pecinta sejarah.
🔍 TELUSUR LEBIH DALAM
Setelah mengetahui kegemaran para raja Majapahit, coba renungkan:
- ❓ Makanan tradisional apa yang masih sering kamu nikmati hingga saat ini?
- ❓ Tahukah kamu bahwa wajik dan dodol yang kamu makan mungkin sama dengan yang dimakan para raja Majapahit?
- ❓ Bagaimana cara kita melestarikan jajanan tradisional agar tidak punah di tengah gempuran kuliner modern?
🏮 KESIMPULAN
Majapahit tidak hanya meninggalkan candi dan prasasti, tetapi juga warisan rasa yang masih bisa dinikmati hingga kini. Wajik kesukaan Raden Wijaya, tape ketan yang dinikmati para pujangga, dodol yang menjadi favorit Jayanegara, rujak yang menyegarkan Tribhuwana, jadah yang menemani Gajah Mada, dan lepet yang digemari Hayam Wuruk—semua menjadi bukti bahwa peradaban Jawa kuno maju tidak hanya dalam teknologi dan politik, tetapi juga dalam seni kuliner.
Mari kita jaga dan lestarikan jajanan tradisional ini. Setiap gigitan adalah dialog rasa lintas generasi, menghubungkan kita dengan para leluhur yang telah membangun peradaban besar di tanah Nusantara.
🔗 Baca Juga:
- Raden Wijaya: Sang Pembebas Nusantara, Pendiri Kerajaan Majapahit
- Tribhuwana Wijayatunggadewi: Ratu Majapahit ke-3, Sang Pemerintah Bersama Gajah Mada
- Gajah Mada: Mahapatih Legendaris Pemersatu Nusantara
- Kakawin Sutasoma: Mahakarya Sastra Jawa Kuno
🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Kuliner, Sejarah, dan Peradaban.
📌 Playlist Tutur Tinular
🔍 #KulinerMajapahit #RadenWijaya #Tribhuwana #GajahMada #JajananKuno #SejarahKuliner #EyangAnantaPrabhavasta
© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Story. Pusaka Obor Suryatikta: Menerangi Jejak Kuliner, Menjaga Marwah Bangsa.
"Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."
⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Gambar-gambar dokumentasi kuliner tradisional Nusantara.
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar