Jumat, 20 Februari 2026

Gajah Mada - Mahapatih Legendaris Pemersatu Nusantara

MAJAPOST — MAJAPAHIT OFFICIAL SITE

GAJAH MADA: MAHAPATIH LEGENDARIS PEMERSATU NUSANTARA

Rakryan Mapatih Jirnnodhara • ꦓꦗꦃꦩꦢ • 1290–1364
📜 Dokumentasi Pustaka Suryatikta⚔️ Profil Tokoh📅 2026 Saka
Menyongsong Kebangkitan Nusantara
Gajah Mada - Mahapatih Majapahit
Gajah Mada — Mahapatih Majapahit yang mengucapkan Sumpah Palapa, bertekad menyatukan Nusantara di bawah panji Wilwatikta.
🖼️ Interpretasi visual Gajah Mada

🪶 TELUSUR MAJAPOST
Ia adalah panglima perang, patih yang setia, dan arsitek di balik kejayaan terbesar Majapahit. Dengan sumpah Palapa, ia berikrar tidak akan menikmati kesenangan sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah panji Wilwatikta. Dari pemberontakan Ra Kuti hingga Perang Bubat, namanya terukir sebagai Mahapatih legendaris yang tak pernah lekang oleh waktu. Inilah Gajah Mada, sang pemersatu Nusantara.

Nama: Gajah Mada / Jirnnodhara
Gelar: Rakryan Mapatih Amangkubhumi
Masa Hidup: ca 1290 – ca 1364 M
Masa Jabatan: ca 1334 – 1364 (Patih Amangkubhumi)
Raja yang dilayani: Jayanagara, Tribhuwana, Hayam Wuruk
Pendahulu: Arya Tadah
Pengganti: Gajah Enggon
Agama: Siwa-Buddha (Saiwa Hindu)
Pertempuran: Pemberontakan Ra Kuti, Pemberontakan Keta & Sadeng, Perang Bedahulu, Perang Bubat
ꦓꦗꦃꦩꦢ • ꦫꦏꦿꦾꦤ꧀ꦩꦥꦠꦶꦃꦗꦶꦂꦟ꧀ꦤꦺꦴꦢ꧀ꦲꦫ

📜 ARTI NAMA

Kata "Gajah" mengacu kepada hewan besar yang disegani, dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai wahana (hewan tunggangan) Dewa Indra. Gajah juga dihubungkan dengan Ganesa, dewa berkepala gajah berbadan manusia, putra Siwa dan Parwati. Adapun kata "Mada" dalam bahasa Jawa kuno artinya mabuk. Maka nama Gajah Mada dapat ditafsirkan dalam dua sifat:

  • Sebagai wahana raja: Ia menganggap dirinya sebagai pelaksana perintah-perintah raja, sebagaimana gajah Airawata menjadi wahana Dewa Indra.
  • Sebagai pribadi yang beringas: Ia adalah orang yang seakan-akan mabuk dan beringas apabila menghadapi berbagai rintangan yang akan menghambat kemajuan kerajaan.

Dalam Prasasti Gajah Mada (1351 M), ia juga dijuluki Rakryan Mapatih Jirnnodhara. Arti kata Jirnnodhara adalah "pembangun sesuatu yang baru" atau "pemugar sesuatu yang telah runtuh/rusak". Dalam pengertian harfiah, Gajah Mada adalah pembangun caitya bagi Kertanegara. Dalam pengertian kiasan, ia dapat dipandang sebagai pemugar dan penerus gagasan Kertanegara dalam konsep Dwipantara Mandala.

👶 KELAHIRAN DAN GENEALOGI

Menurut Prasasti Gajah Mada yang bertarikh 1273 Saka (1351 M), Gajah Mada membangun caitya (bangunan suci) bagi Kertanagara, raja terakhir Singhasari. Hal ini mengindikasikan bahwa Gajah Mada masih memiliki hubungan darah dengan Raja Kertanagara. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, berpendapat bahwa Gajah Mada adalah cucu Kertanagara dari istri selir, sehingga ia memiliki eyang yang sama dengan Tribhuwana Tunggadewi.

Ayah Gajah Mada kemungkinan bernama Gajah Pagon, yang disebut dalam Pararaton sebagai pengiring Raden Wijaya ketika berperang melawan pengikut Jayakatwang. Gajah Pagon terluka dalam pertempuran dan dititipkan kepada kepala desa Pandakan. Kemungkinan Gajah Pagon selamat, menikah dengan putri kepala desa, dan melahirkan Gajah Mada yang kemudian mengabdi pada Majapahit.

"...pada waktu itu saat Rakryan Mapatih Jirnnodhara membuat caitya bagi para brahmana tertinggi Siwa dan Buddha yang mengikuti wafatnya paduka Bhatara dan sang Mahawrddhamantri (Mpu Raganatha) yang gugur di kaki Bhatara." — Prasasti Gajah Mada (1351 M)

⚔️ KARIR AWAL

1313
Memulai karier sebagai Bekel (kepala pasukan) Bhayangkara (pengawal raja)
1319
Berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara ke desa Badander dan memadamkan pemberontakan Ra Kuti. Diangkat menjadi Patih Kahuripan
1321
Menggantikan Arya Tilam sebagai Patih Daha (Kediri)

Sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara, Gajah Mada berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309–1328) ke desa Badander dan memadamkan pemberontakan Ra Kuti (salah seorang Dharmaputra, pegawai istana yang diistimewakan sejak masa Raden Wijaya). Atas jasanya, Jayanagara mengangkat Gajah Mada menjadi patih Kahuripan (1319). Dua tahun kemudian, ia menggantikan Arya Tilam sebagai patih di Daha/Kediri.

🗡️ SUMPAH PALAPA

Pada tahun 1258 Saka (1334 M), ketika diangkat sebagai Patih Amangkubhumi menggantikan Arya Tadah, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal, yaitu Sumpah Palapa. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton:

"Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: 'Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa'."

Terjemahan: "[Akhirnya] Gajah Mada menjadi patih mangkubumi, [tetapi] tidak ingin amukti palapa. Gajah Mada [bersumpah], 'Jika sudah takluk Nusantara, [maka] aku amukti palapa. Jika [sudah] takluk Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku amukti palapa'."

Amukti palapa berarti menikmati istirahat atau menikmati kesenangan. Sumpah ini menimbulkan kegemparan di kalangan petinggi kerajaan, namun Gajah Mada tetap teguh pada ikrarnya. Ia melaksanakan politik penyatuan Nusantara selama 21 tahun, antara tahun 1336 sampai 1357.

🌏 EKSPANSI NUSANTARA

Dibantu oleh Laksamana Nala, Gajah Mada memulai kampanye penaklukannya ke seluruh Nusantara:

🏝️ Sumatra (1339)

Menaklukkan Swarnnabhumi (Sumatra), pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, Haru, Pahang, Palembang.

🏝️ Bali & Nusa Tenggara (1343)

Bersama Arya Damar menaklukkan Bedahulu (Bali), kemudian Lombok, Sapi, Gunungapi, Sumba, Solor, Bima, Dompo, dan Timor.

🏝️ Kalimantan

Menaklukkan Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga, Kotawaringin, Sambas, Landak, Samadang, Sedu, Brunei, Sulu, Pasir, Barito, dan Malano.

🏝️ Maluku & Papua

Menaklukkan Logajah, Seram, Hutankadali, Bantayan, Luwu, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Muar (Saparua), Ambon, Wanin (Papua), dan Seran.

⚡ PERANG BUBAT (1357)

Perang Bubat adalah peristiwa kelam dalam sejarah Majapahit yang melibatkan Gajah Mada. Ketika Prabu Hayam Wuruk berencana menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Kerajaan Sunda, Gajah Mada mempersyaratkan bahwa Dyah Pitaloka harus diserahkan sebagai tanda takluk Sunda kepada Majapahit. Pihak Sunda menolak, dan terjadilah pertempuran di Bubat yang menewaskan seluruh rombongan Sunda, termasuk Raja Sunda dan Dyah Pitaloka yang bunuh diri.

Akibat peristiwa ini, Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya. Namun dalam Nagarakretagama diceritakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh "Madakaripura" di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada.

🕉️ AKHIR HAYAT

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh 70, pada tahun 1286 Saka (1364 M), Hayam Wuruk yang sedang melakukan perjalanan ke Simping (Blitar) dikejutkan dengan berita bahwa Gajah Mada sakit. Ia segera kembali ke ibu kota Majapahit. Gajah Mada kemudian meninggal pada tahun yang sama.

Ada juga versi cerita rakyat yang menyebutkan bahwa Gajah Mada menarik diri setelah Peristiwa Bubat dan memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru. Di balik air terjun Madakaripura yang mengguyur bak tirai, terdapat goa yang dipercaya sebagai tempat Gajah Mada bertapa hingga akhir hayatnya.

Sepeninggal Gajah Mada, Hayam Wuruk sangat bersedih dan memutuskan untuk tidak menggantikan posisi Patih Amangkubhumi. Ia membentuk Dewan Sapta Prabu, namun akhirnya mengangkat Gajah Enggon sebagai patih pengganti.

🎭 PENGGAMBARAN RUPA

Penggambaran rupa Gajah Mada yang populer di media sebenarnya adalah imajinasi dari Mohammad Yamin dalam bukunya "Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara" (1945). Yamin menemukan pecahan terakota berupa celengan wajah pria gempal berambut ikal di Trowulan, dan menafsirkannya sebagai wajah Gajah Mada. Lukisan berdasarkan terakota itu kemudian menjadi sampul buku Yamin dan populer hingga kini.

Penelitian arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, mengilustrasikan Gajah Mada selayaknya sosok Bima dalam pewayangan, yakni berkumis melintang, berbadan tegap, memakai kain poleng (hitam-putih), dan digambarkan dengan mahkota supit urang.

Dalam kidung Sundayana, seorang patih Sunda menerangkan bahwa Gajah Mada mengenakan karambalangan (lapis logam di depan dada—breastplate) berhias timbul dari emas, bersenjata tombak berlapis emas, dan perisai penuh hiasan intan berlian.

🏛️ ARCA GAJAH MADA

🪶 TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah menelusuri jejak Sang Mahapatih, renungkanlah:

❓ Apa makna Sumpah Palapa bagi persatuan Nusantara saat ini?

❓ Bagaimana Gajah Mada mampu memimpin ekspansi besar-besaran di tengah keterbatasan teknologi?

❓ Dari Perang Bubat, apa yang bisa kita petik tentang diplomasi dan keteguhan prinsip?

"Setiap orang bisa membaca sejarah, tapi hanya penelusur sejati yang menangkap makna untuk masa kini."

🏮 KESIMPULAN

Gajah Mada bukan sekadar nama dalam prasasti. Ia adalah simbol persatuan, keteguhan, dan pengabdian tanpa batas. Dari pemberontakan Ra Kuti hingga Sumpah Palapa, dari ekspansi ke seluruh Nusantara hingga tragedi Bubat, ia tetap menjadi figur sentral yang membawa Majapahit menuju puncak kejayaan. Ia adalah bukti bahwa seorang patih bisa menjadi lebih besar dari kerajaan yang dilayaninya. Warisannya bukan hanya wilayah kekuasaan, tetapi semangat persatuan yang terus menginspirasi Nusantara hingga kini.

"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa — Jika telah takluk Nusantara, barulah aku menikmati istirahat."

📚 Referensi: Pararaton, Kakawin Nagarakretagama, Prasasti Gajah Mada (1351), Kidung Sundayana, M.C. Ricklefs (1991), Poesponegoro & Notosusanto (1990), Slamet Muljana (2005), Agus Aris Munandar (2021), dan sumber-sumber sejarah lainnya.
⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Gambar ilustrasi dan dokumentasi peninggalan. Artikel disusun dari berbagai sumber sejarah primer dan sekunder.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Smart Recommendations
Smart Recommendations

Database Artikel

    paling banyak dibaca