Jumat, 20 Februari 2026

Tribhuwana Wijayatunggadewi: Ratu Majapahit ke-3, Sang Pemerintah Bersama Gajah Mada

MAJAPOST — MAJAPAHIT OFFICIAL SITE

TRIBHUWANA WIJAYATUNGGADEWI: RATU MAJAPAHIT KE-3, SANG PEMERINTAH BERSAMA GAJAH MADA

Tribhuwana Wijayatunggadewi — Ratu Majapahit ke-3, putri Raden Wijaya, ibu Hayam Wuruk
🖼️ Rekonstruksi AI oleh Majapost — Majapahit Official Site
Çri Tribhuwanotunggadewī Mahārājasa Jayawisnuwārddhani • 1328–1350
📜 Dokumentasi Pustaka Suryatikta👑 Profil Tokoh📅 2026 Saka
Menyongsong Kebangkitan Nusantara
🎬 Tribhuwana Wijayatunggadewi - Dokumenter Perjuangan Ratu Majapahit (Video Unggahan Blogspot)
Arca Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai Dewi Parwati dari Candi Rimbi, Jombang. Koleksi Museum Nasional Indonesia.
Arca Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai Dewi Parwati — Penggambaran Ratu Majapahit ke-3 sebagai permaisuri Dewa Siwa. Arca ini berasal dari Candi Rimbi, Jombang, dan kini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia.
🖼️ Sumber: Wikimedia Commons • Koleksi Museum Nasional Indonesia

🪶 TELUSUR MAJAPOST
Ia adalah putri Raden Wijaya, ratu yang memerintah atas nama ibunya yang telah menjadi Bhiksuni. Di tangannya, Gajah Mada dilantik sebagai Patih Amangkubhumi dan mengucapkan Sumpah Palapa. Ia memimpin sendiri pasukan menumpas pemberontakan dan memperluas kerajaan hingga ke Bali dan Sumatra. Inilah Tribhuwana Wijayatunggadewi, ratu pemberani yang menjadi jembatan antara pendiri Majapahit dan raja terbesarnya, Hayam Wuruk.

Nama Lahir: Dyah Gitarja / Dyah Tya
Nama Regnal: Çri Tribhuwanotunggadewī Mahārājasa Jayawisnuwārddhani
Gelar: Maharani Majapahit ke-3, Bhre Kahuripan
Masa Berkuasa: 1328 – 1350 M
Ayah: Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana)
Ibu: Gayatri Rajapatni (putri Kertanagara)
Pasangan: Kertawardhana Dyah Cakradhara (Bhre Tumapel)
Keturunan: Hayam Wuruk (Rajasanagara), Dyah Nertaja (Bhre Pajang)
Wangsa: Rajasa
Wafat: Sekitar 1371, didharmakan di Candi Pantarapura, Panggih
ꦯꦿꦶꦡꦿꦶꦨ꧀ꦲꦸꦮꦟꦡꦸꦁꦓꦢꦺꦮꦶꦩꦲꦬꦗꦯꦗꦪꦮꦶꦯ꧀ꦟꦸꦮꦂꦝꦟꦶ

Tribhuwana Wijayatunggadewi, dikenal pula dengan nama asli Dyah Gitarja atau Dyah Tya, adalah Maharani Majapahit ketiga yang memerintah dari tahun 1328 hingga 1350. Ia bergelar Bhre Kahuripan (Adipati Wanita Kahuripan) sebelum naik takhta. Dalam sejarah Nusantara, ia dikenang sebagai ratu pemberani yang memerintah dengan tegas, didampingi suaminya Kertawardhana, dan dengan dukungan penuh dari Patih Gajah Mada. Di bawah pemerintahannya, Majapahit memulai ekspansi besar-besaran ke seluruh Nusantara, meletakkan fondasi bagi kejayaan putranya, Hayam Wuruk.

📜 SILSILAH DAN KELUARGA

Tribhuwana adalah putri dari pendiri Majapahit, Raden Wijaya, dan permaisuri Gayatri Rajapatni (putri bungsu Raja Kertanagara dari Singhasari). Ia memiliki seorang adik kandung bernama Dyah Wiyat (Rajadewi Maharajasa) dan seorang kakak tiri, Jayanagara (raja kedua Majapahit), putra dari Dara Petak.

Pada masa pemerintahan Jayanagara (1309–1328), Tribhuwana diangkat sebagai penguasa bawahan di Jiwana dengan gelar Bhre Kahuripan. Menurut Pararaton, Jayanagara merasa takut takhtanya terancam, sehingga ia melarang kedua adiknya (Tribhuwana dan Rajadewi) untuk menikah. Setelah Jayanagara meninggal tahun 1328, barulah para ksatria berdatangan melamar kedua putri. Melalui suatu sayembara, terpilihlah dua orang pria: Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja (Tribhuwana), dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat (Rajadewi).

Cakradhara kemudian bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari perkawinan ini lahir dua orang anak:

  • Hayam Wuruk (Dyah Hayam Wuruk) — kelak menjadi raja keempat Majapahit, bergelar Rajasanagara.
  • Dyah Nertaja — bergelar Bhre Pajang (putri).

👑 Raden Wijaya (Ayah)

Pendiri Majapahit, raja pertama (1293-1309).

👸 Gayatri Rajapatni (Ibu)

Putri Kertanagara, istri Raden Wijaya, ibu yang menyerahkan takhta pada Tribhuwana.

🤴 Kertawardhana (Suami)

Cakradhara, Bhre Tumapel, pendamping setia Tribhuwana dalam pemerintahan.

👑 Hayam Wuruk (Putra)

Raja keempat Majapahit (1350-1389), membawa Majapahit ke puncak kejayaan.

👸 Rajadewi (Adik)

Dyah Wiyat, Bhre Pajang, adik kandung Tribhuwana.

👑 PENGANGKATAN SEBAGAI RATU

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya, Gayatri Rajapatni, pada tahun 1329, menggantikan Jayanagara yang wafat tahun 1328 tanpa meninggalkan keturunan. Sebagai sesepuh keluarga kerajaan yang masih hidup, Gayatri berhak atas takhta Majapahit. Namun saat itu Gayatri telah mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dan menjadi Bhiksuni (pendeta Buddha). Oleh karena itu, ia memerintahkan putrinya, Tribhuwana, untuk memerintah mewakilinya.

Tribhuwana kemudian memerintah sebagai ratu hingga tahun 1350. Ketika Gayatri wafat, masa pemerintahan Tribhuwana pun berakhir, dan takhta beralih kepada putranya, Hayam Wuruk.

⚔️ PEMBERONTAKAN SADENG DAN KETA (1331)

Salah satu ujian terbesar di awal pemerintahan Tribhuwana adalah pemberontakan di daerah Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Menurut Pararaton, terjadi persaingan sengit antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima untuk menumpas pemberontakan tersebut.

Tribhuwana menunjukkan ketegasan dan keberaniannya sebagai pemimpin. Ia memutuskan untuk memimpin langsung pasukan sebagai panglima perang, didampingi oleh Gajah Mada, Ra Kembar, dan sepupunya, Adityawarman (yang saat itu menjabat sebagai Wreddhamantri atau perdana menteri). Keputusan ini tidak hanya berhasil menumpas pemberontakan, tetapi juga mengokohkan posisi Tribhuwana sebagai ratu yang layak dihormati.

🗡️ SUMPAH PALAPA DAN PENGANGKATAN GAJAH MADA

Pada tahun 1334, setelah keberhasilannya dalam pemberontakan Sadeng-Keta, Gajah Mada diangkat sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit menggantikan patih sebelumnya, Arya Tadah. Dalam upacara pelantikannya, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal dalam sejarah Nusantara: Sumpah Palapa.

"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa."

(Jika telah menaklukkan Nusantara, barulah saya akan menikmati palapa. Jika kalah di Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, saat itulah saya akan menikmati palapa.)

Tribhuwana adalah ratu yang mendukung penuh ambisi Gajah Mada. Pada tahun yang sama, putranya, Hayam Wuruk, lahir—sebuah pertanda baik yang dianggap sebagai berkah bagi masa depan Majapahit.

🌏 EKSPANSI MAJAPAHIT

Masa pemerintahan Tribhuwana adalah periode penting dalam sejarah ekspansi Majapahit. Dengan Gajah Mada sebagai patih, wilayah kekuasaan Majapahit mulai meluas ke berbagai penjuru Nusantara:

1343
Penaklukan Bali: Majapahit mengirim Arya Damar untuk mengalahkan Raja Pejeng, Dalem Bedahulu. Seluruh Bali kemudian berada di bawah kekuasaan Majapahit.
1347
Ekspedisi ke Sumatra: Adityawarman, yang masih memiliki garis keturunan Melayu, dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian diangkat sebagai uparaja (raja bawahan) Majapahit yang menguasai seluruh wilayah Sumatra.

Ekspansi ini menjadi fondasi bagi kejayaan Majapahit di masa Hayam Wuruk, di mana wilayah kekuasaannya membentang dari Lamuri di ujung barat hingga Wanin di ujung timur.

🕉️ AKHIR HAYAT DAN PEMAKAMAN

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana diperkirakan turun takhta pada tahun 1350 bersamaan dengan wafatnya ibunya, Gayatri Rajapatni. Namun, Prasasti Singasari menyebutkan bahwa ia masih memerintah hingga tahun 1351. Setelah turun takhta, ia kembali menjadi Bhre Kahuripan dan tergabung dalam Saptaprabhu, sebuah dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga kerajaan.

Tidak diketahui dengan pasti kapan Tribhuwana wafat. Pararaton hanya memberitakan bahwa Bhre Kahuripan (Tribhuwana) meninggal setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih pada tahun 1371. Ia didharmakan di Candi Pantarapura yang terletak di desa Panggih. Sementara suaminya, Kertawardhana Bhre Tumapel, meninggal pada tahun 1386 dan didharmakan di Candi Sarwa Jayapurwa di desa Japan.

🏺 ARCA TRIBHUWANA SEBAGAI DEWI PARWATI

Salah satu peninggalan penting dari masa Tribhuwana adalah Arca Parwati yang ditemukan di Candi Rimbi, Jombang. Arca ini menggambarkan Tribhuwana sebagai Dewi Parwati, permaisuri Dewa Siwa dalam kepercayaan Hindu. Kini arca tersebut menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia dan menjadi bukti betapa tingginya penghormatan terhadap ratu ini, yang tidak hanya dihormati sebagai penguasa, tetapi juga sebagai titisan dewi.

🪶 TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah menelusuri jejak Sang Ratu Pemberani, renungkanlah:

❓ Mengapa Tribhuwana memilih memimpin langsung pasukan dalam pemberontakan Sadeng-Keta?

❓ Bagaimana peran Tribhuwana dalam mendukung Sumpah Palapa Gajah Mada?

❓ Apa arti penting kepemimpinan perempuan dalam sejarah Nusantara?

"Setiap orang bisa membaca sejarah, tapi hanya penelusur sejati yang menangkap makna untuk masa kini."

🏮 KESIMPULAN

Tribhuwana Wijayatunggadewi bukan sekadar ratu yang memerintah karena mandat ibunya. Ia adalah pemimpin sejati yang berani turun ke medan perang, tegas dalam mengambil keputusan, dan bijaksana dalam memilih pendukungnya. Di bawah pemerintahannya, Gajah Mada ditempa menjadi patih terhebat, dan cita-cita mempersatukan Nusantara mulai terwujud. Ia adalah jembatan yang menghubungkan generasi pendiri Majapahit dengan generasi keemasannya. Dari rahimnya lahir Hayam Wuruk, namun dari ketegasannya lahir fondasi kejayaan.

"Tribhuwana Wijayatunggadewi — Dewi dari tiga dunia, penerus cahaya Majapahit."

📚 Referensi: Kakawin Nagarakretagama, Pararaton, Slamet Muljana (1965/2005, 1979), dan sumber-sumber sejarah lainnya.
⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Gambar arca dari Wikimedia Commons, koleksi Museum Nasional Indonesia. Video merupakan unggahan Blogspot. Artikel disusun dari berbagai sumber sejarah primer dan sekunder, terutama Kakawin Nagarakretagama dan Pararaton.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Smart Recommendations
Smart Recommendations

Database Artikel

    paling banyak dibaca