Jumat, 20 Februari 2026

Judul Suhita: Maharani Majapahit ke-6, Sang Pewaris Takhta dari Konflik Paregreg

MAJAPOST — MAJAPAHIT OFFICIAL SITE

SUHITA: MAHARANI MAJAPAHIT KE-6, SANG PEWARIS TAKHTA DARI KONFLIK PAREGREG

Prabu Sri Suhita • 1429–1447 • ꦯꦸꦲꦶꦡ
📜 Dokumentasi Pustaka Suryatikta👑 Profil Tokoh📅 2026 Saka
Menyongsong Kebangkitan Nusantara

🪶 TELUSUR MAJAPOST
Ia adalah maharani yang naik takhta di tengah bayang-bayang Perang Paregreg, konflik saudara terbesar dalam sejarah Majapahit. Cucu dari Bhre Wirabhumi, putri dari Wikramawardhana, dan istri dari Aji Ratnapangkaja. Dalam masa pemerintahannya, ia menghukum mati pembunuh kakeknya, menegakkan keadilan, dan memimpin Majapahit menuju stabilitas. Inilah Suhita, sang pewaris takhta dari tanah Wilwatikta.

Nama: Suhita / Su-king-ta (catatan China) / Sri Suhuta
Gelar: Prabu Sri Suhita, Maharani Majapahit ke-6
Masa Berkuasa: 1429 – 1447 M
Ayah: Wikramawardhana (Raja Majapahit ke-5)
Ibu: Bhre Daha (putri Bhre Wirabhumi)
Pasangan: Aji Ratnapangkaja (Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja)
Dinasti: Wangsa Rajasa
Wafat: 1447 M, didharmakan di Singhajaya
ꦯꦸꦲꦶꦡ • ꦦꦿꦧꦸꦱꦿꦶꦱꦸꦲꦶꦠ

Prabu Sri Suhita atau dalam catatan China disebut Su-king-ta adalah maharani keenam Kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun 1429 hingga 1447 M. Ia naik takhta di masa pasca-Perang Paregreg (1404–1406), konflik saudara paling berdarah antara kubu barat (Wikramawardhana) dan kubu timur (Bhre Wirabhumi). Sebagai cucu dari Bhre Wirabhumi dan putri dari Wikramawardhana, Suhita menjadi simbol rekonsiliasi dua garis keturunan yang bertikai. Pemerintahannya bersama suami, Aji Ratnapangkaja, membawa stabilitas dan keadilan, termasuk penghukuman mati terhadap Raden Gajah, pembunuh Bhre Wirabhumi.

📜 SILSILAH DAN KELUARGA

Silsilah Suhita erat kaitannya dengan Perang Paregreg. Menurut Pararaton, meskipun tidak menyebut secara jelas nama ibunya, para sejarawan merekonstruksi silsilahnya sebagai berikut:

  • Kakek: Bhre Wirabhumi (raja timur Majapahit, putra Hayam Wuruk dengan selir)
  • Nenek: Nagarawardhani (cucu Rajadewi, putri bungsu Raden Wijaya)
  • Ayah: Wikramawardhana (Raja Majapahit ke-5, keponakan dan menantu Hayam Wuruk)
  • Ibu: Bhre Daha (putri Bhre Wirabhumi dan Nagarawardhani, yang diboyong Wikramawardhana setelah Perang Paregreg)
  • Suami: Aji Ratnapangkaja (Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja, penguasa Kahuripan)
  • Adik: Dyah Kertawijaya (penerus takhta setelah Suhita)

Dari perkawinan Wikramawardhana dengan Bhre Daha (puteri Bhre Wirabhumi), lahirlah Suhita sebagai Bhre Daha ketiga. Usianya saat naik takhta tahun 1429 diperkirakan sekitar 20-an tahun.

👑 Wikramawardhana (Ayah)

Raja Majapahit ke-5 (1389-1429). Pemenang Perang Paregreg yang kemudian menikahi putri Bhre Wirabhumi sebagai bentuk rekonsiliasi.

👸 Bhre Daha (Ibu)

Putri Bhre Wirabhumi dan Nagarawardhani. Diboyong Wikramawardhana setelah Perang Paregreg, melahirkan Suhita.

🤴 Aji Ratnapangkaja (Suami)

Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja, penguasa Kahuripan. Memerintah bersama Suhita hingga wafatnya tahun 1437.

👑 Dyah Kertawijaya (Adik)

Adik Suhita yang kemudian menjadi raja Majapahit ke-7 (1447-1451) setelah Suhita wafat tanpa putra mahkota.

⚔️ LATAR BELAKANG: PERANG PAREGREG DAN NAIKNYA SUHITA

Perang Paregreg (1404–1406) adalah perang saudara antara kubu barat yang dipimpin Wikramawardhana (keponakan dan menantu Hayam Wuruk) dan kubu timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari selir). Perang ini berakhir dengan kekalahan Bhre Wirabhumi yang tewas dibunuh oleh Raden Gajah di perbatasan.

Setelah kemenangannya, Wikramawardhana memboyong putri Bhre Wirabhumi (yang bergelar Bhre Daha) sebagai selir. Dari perkawinan inilah lahir Suhita. Dengan demikian, Suhita adalah simbol pemersatu dua garis keturunan yang sebelumnya bertikai.

"Dari darah yang tumpah di Paregreg, lahir seorang putri yang mempersatukan kembali keluarga Majapahit." — Pustaka Suryatikta

👸 MASA PEMERINTAHAN SUHITA (1429–1447)

Pemerintahan Bersama Ratnapangkaja

Suhita memerintah berdampingan dengan suaminya, Aji Ratnapangkaja, yang bergelar Bhatara Parameswara Ratnapangkaja. Ratnapangkaja adalah putra Surawardhani (Bhre Kahuripan) dan Raden Sumirat (Bhre Pandansalas). Ia memiliki hubungan keluarga yang rumit dengan Wikramawardhana, namun hal ini tidak menghalanginya untuk setia mendampingi Suhita.

Menghukum Mati Raden Gajah (1433)

Pada tahun 1433, Suhita mengambil tindakan penting: menghukum mati Raden Gajah alias Bhra Narapati, penguasa Jinggan. Raden Gajah adalah orang yang membunuh Bhre Wirabhumi (kakek Suhita) dalam pelariannya setelah Perang Paregreg tahun 1406. Tindakan ini menegaskan bahwa Suhita tidak melupakan asal-usulnya dan menegakkan keadilan bagi leluhurnya.

1429
Suhita naik takhta menggantikan Wikramawardhana, berusia sekitar 20 tahun
1433
Menghukum mati Raden Gajah, pembunuh Bhre Wirabhumi
1437
Aji Ratnapangkaja wafat
1447
Suhita wafat, didharmakan di Singhajaya bersama suami

📜 SUHITA DALAM CATATAN TIONGKOK

Nama Suhita juga muncul dalam kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong sebagai Su-king-ta, yaitu raja Majapahit yang mengangkat Gan Eng Cu sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa di Tuban dengan pangkat A-lu-ya. Tokoh Gan Eng Cu ini diidentifikasi sebagai Arya Teja, yang tidak lain adalah kakek dari Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo. Catatan ini menunjukkan hubungan diplomasi dan perdagangan Majapahit dengan Tiongkok yang tetap berlanjut di masa pemerintahannya.

🏺 ARCA SUHITA DAN PENINGGALAN

Arca Suhita sebagai permaisuri Majapahit ditemukan di Jebuk, Kalangbret, Tulungagung. Kini arca tersebut menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia. Arca ini menggambarkan Suhita dengan ciri khas kesenian masa Majapahit akhir, dengan mahkota dan atribut kerajaan yang menunjukkan statusnya sebagai maharani.

Selain arca, peninggalan lain yang terkait dengan Suhita adalah situs pemakamannya. Menurut Pararaton, Suhita dan suaminya, Aji Ratnapangkaja, didharmakan bersama di Singhajaya. Situs ini diyakini berada di daerah Reco Guru atau Reco Manten, meskipun belum dapat dipastikan secara arkeologis.

🕉️ AKHIR HAYAT DAN PENGGANTI

Pada tahun 1437, Aji Ratnapangkaja wafat. Suhita melanjutkan pemerintahan sendirian selama sepuluh tahun berikutnya, hingga akhirnya wafat pada tahun 1447. Karena tidak memiliki putra mahkota, takhta Majapahit kemudian diwariskan kepada adiknya, Dyah Kertawijaya (Brawijaya I), yang menjadi raja ketujuh Majapahit.

"Singhajaya, tempat abadi bagi pasangan yang memerintah dengan adil. Dari timur dan barat yang bertikai, mereka bersatu dalam dharma."

🪶 TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah menelusuri jejak Sang Maharani, renungkanlah:

❓ Bagaimana Suhita mampu menjadi simbol rekonsiliasi dua garis keturunan yang bertikai dalam Perang Paregreg?

❓ Apa makna tindakannya menghukum mati Raden Gajah setelah 27 tahun perang usai?

❓ Dari kisah Suhita, apa yang bisa kita petik tentang keadilan dan keteguhan seorang pemimpin?

"Setiap orang bisa membaca sejarah, tapi hanya penelusur sejati yang menangkap makna untuk masa kini."

🏮 KESIMPULAN

Suhita adalah maharani yang lahir dari pusaran konflik terbesar Majapahit, namun justru menjadi perekat yang mempersatukan kembali keluarga kerajaan. Ia memerintah dengan adil, menegakkan keadilan bagi leluhurnya, dan menjaga stabilitas kerajaan di masa pasca-perang. Meski namanya mungkin tidak seterkenal Tribhuwana atau Suhita, ia adalah bukti bahwa kepemimpinan perempuan tetap mampu membawa kejayaan di tengah badai sejarah. Dari Singhajaya, abunya bersemayam, namun semangatnya terus menginspirasi.

"Suhita — Dari Paregreg yang kelam, lahir cahaya keadilan."

📚 Referensi: Pararaton, Nagarakretagama, M.C. Ricklefs (1991), Poesponegoro & Notosusanto (1990), Slamet Muljana (2005), dan sumber-sumber sejarah lainnya.
⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Gambar ilustrasi dan dokumentasi peninggalan. Artikel disusun dari berbagai sumber sejarah primer dan sekunder.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Smart Recommendations
Smart Recommendations

Database Artikel

    paling banyak dibaca