Jumat, 20 Februari 2026

Kakawin Sutasoma: Mahakarya Sastra Jawa Kuno, Sumber Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Empu Tantular • Abad ke-14 • Toleransi Beragama di Era Majapahit

📜 Dokumentasi Pustaka Suryatikta • 📚 Sastra & Naskah • 📅 2026 Saka
Menyongsong Kebangkitan Nusantara
Sampul buku Kakawin Sutasoma keluaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali, 1993

Sampul Kakawin Sutasoma — Terbitan Dinas Pendidikan Provinsi Bali (1993), menggambarkan Pangeran Sutasoma yang diterkam harimau betina.

🖼️ Koleksi Dokumentasi Sastra
🪶 TELUSUR MAJAPOST

Dari lembaran lontar masa Majapahit, lahirlah sebuah mahakarya yang tak hanya mengisahkan perjalanan spiritual seorang pangeran, tetapi juga menggema lintas abad sebagai fondasi persatuan bangsa. Kakawin Sutasoma, karya agung Empu Tantular, menyimpan mutiara kebijaksanaan tentang toleransi yang kemudian menjadi semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika. Mari menelusuri kedalaman sastra, filosofi, dan pesan abadi dari kitab ini.

Judul: Kakawin Sutasoma

Pengarang: Empu Tantular

Bahasa: Jawa Kuno

Perkiraan Abad: 14 M (1365–1389 M)

Masa: Kejayaan Majapahit (Hayam Wuruk)

Jenis: Kakawin (puisi epik)

Tema: Toleransi Hindu-Buddha, pengorbanan, dharma

Semboyan Nasional: "Bhinneka Tunggal Ika" (Bab 139.5)

Kakawin Sutasoma adalah sebuah kakawin (syair epik) dalam bahasa Jawa Kuno yang digubah oleh Empu Tantular pada abad ke-14, di masa keemasan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Karya sastra ini termasyhur, sebab setengah bait dari kakawin ini menjadi motto nasional Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika (Bab 139.5). Kakawin ini mengajarkan nilai-nilai luhur tentang toleransi antar agama, terutama antara agama Hindu-Siwa dan Buddha, serta kisah heroik tentang pengorbanan dan dharma.

✍️ EMPU TANTULAR: SANG PENGARANG

Empu Tantular adalah seorang pujangga besar sastra Jawa Kuno yang hidup pada masa keemasan Majapahit. Selain menulis Kakawin Sutasoma, ia juga dikenal sebagai pengarang Kakawin Arjunawijaya. Gaya bahasanya yang indah dan mendalam menjadikannya salah satu sastrawan terpenting dalam khazanah sastra Nusantara. Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupannya secara pasti, namun melalui karyanya, ia mewariskan pesan-pesan kebijaksanaan yang melampaui zaman.

📖 IKTISAR ISI KAKAWIN SUTASOMA

Kakawin Sutasoma mengisahkan petualangan spiritual Pangeran Sutasoma, putra Raja Hastinapura, Prabu Mahaketu. Sejak muda, Sutasoma memiliki ketertarikan yang mendalam pada ajaran Buddha dan enggan menikah maupun dinobatkan menjadi raja. Pada suatu malam, ia melarikan diri dari istana untuk bertapa dan mencari pencerahan.

Perjalanan Spiritual Sutasoma

Dalam pengembaraannya, Sutasoma menghadapi berbagai ujian dan makhluk-makhluk yang mengganggu. Ia bertemu dengan:

  • Dewi Widyukarali — memberkati sembahyangnya dan mengabulkan permohonannya.
  • Raksasa berkepala gajah — berhasil ditaklukkan dan diberi ajaran Buddha, lalu menjadi muridnya.
  • Seekor naga — juga dikalahkan dan menjadi pengikutnya.
  • Harimau betina yang lapar — nyaris memakan anaknya sendiri. Sutasoma mengajarkan untuk tidak membunuh, dan dengan penuh kasih, ia menawarkan dirinya untuk dimakan. Tindakan mulia ini membuatnya dihidupkan kembali oleh Batara Indra.

Pertemuan dengan Purusada (Kalmasapada)

Puncak cerita adalah pertemuan Sutasoma dengan raja raksasa Purusada (atau Kalmasapada). Purusada memiliki kaul untuk mempersembahkan 100 raja kepada Batara Kala. Namun, Batara Kala menginginkan Sutasoma sebagai santapannya. Purusada berhasil menangkap Sutasoma dan menyerahkannya kepada Batara Kala.

Di saat genting, Sutasoma dengan rela hati bersedia dimakan asalkan ke-100 raja yang ditawan Purusada dibebaskan. Pengorbanan diri yang tulus ini menyentuh hati Purusada, yang akhirnya bertobat dan melepaskan semua raja. Sutasoma kemudian kembali ke Hastina, menikah, dan dinobatkan menjadi raja.

🕉️☸️ BHINNEKA TUNGGAL IKA: SEMBOYAN PERSATUAN BANGSA

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

"Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.
Berbeda-beda itu manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua."

Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5 Kakawin Sutasoma. Frasa "Bhinnêka tunggal ika" yang berarti "berbeda-beda itu satu" diangkat menjadi semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemilihan frasa ini sangat tepat karena mencerminkan realitas bangsa Indonesia yang majemuk, namun tetap satu dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pesan toleransi dan persatuan yang digaungkan Empu Tantular pada abad ke-14 tetap relevan hingga kini.

📝 PENULISAN DAN KONTEKS SEJARAH

Kakawin Sutasoma digubah pada masa keemasan Majapahit di bawah kekuasaan Prabu Hayam Wuruk (1350–1389). Tidak diketahui secara pasti kapan karya sastra ini diselesaikan. Para pakar memperkirakan kakawin ini ditulis antara tahun 1365 dan 1389. Tahun 1365 adalah tahun diselesaikannya kakawin Nagarakretagama karya Empu Prapanca, sementara pada tahun 1389, Raja Hayam Wuruk mangkat. Gaya bahasa Kakawin Sutasoma sangat mirip dengan Kakawin Arjunawijaya, yang juga digubah oleh Empu Tantular.

☸️ SASTRA BUDDHIS

Kakawin Sutasoma bisa dikatakan unik dalam sejarah sastra Jawa karena merupakan salah satu dari sedikit kakawin bersifat epik yang bernapaskan agama Buddha. Kakawin ini memadukan ajaran Buddha dengan nilai-nilai Jawa kuno, mencerminkan sinkretisme yang berkembang pesat di Majapahit. Tokoh Sutasoma sendiri adalah seorang Bodhisattva, calon Buddha, yang rela berkorban demi makhluk lain.

📜 SALINAN DAN NASKAH

Kakawin Sutasoma diturunkan hingga saat ini dalam bentuk naskah tulisan tangan, baik dalam bentuk lontar maupun kertas. Hampir semua naskah kakawin ini berasal dari pulau Bali. Namun, ternyata ada satu naskah yang berasal dari pulau Jawa dan memuat sebuah fragmen awal kakawin ini, yang berasal dari "Koleksi Merapi-Merbabu", kumpulan naskah-naskah kuno dari daerah sekitar pegunungan Merapi dan Merbabu di Jawa Tengah. Ini membuktikan bahwa teks ini memang benar-benar berasal dari pulau Jawa.

🎭 RESPONS MASYARAKAT

Di pulau Bali, Kakawin Sutasoma merupakan salah satu kakawin yang cukup digemari. Hal ini berkat kiprah I Gusti Bagus Sugriwa, seorang pakar susastra dari Bali yang mempopulerkan kakawin ini. Ia banyak menggunakan petikan-petikan dari kakawin ini dalam bukunya mengenai pelajaran kakawin.

📚 PENERBITAN DAN TERJEMAHAN

  • 1975 — Suntingan teks dan terjemahan bahasa Inggris oleh Soewito Santoso (New Delhi).
  • 1959–1961 — Penerbitan teks dengan terjemahan bahasa Indonesia oleh I Gusti Bagus Sugriwa.
  • 1993 — Suntingan teks aksara Bali dengan terjemahan bahasa Bali oleh Dinas Pendidikan Provinsi Bali.
  • 2009 — Suntingan teks dan terjemahan bahasa Indonesia baru oleh Dwi Woro R. Mastuti & Hastho Bramantyo (Penerbit Komunitas Bambu).
“Kakawin Sutasoma adalah bukti bahwa pada abad ke-14, Nusantara telah memiliki konsep toleransi yang matang, di mana perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang menyatukan.” — Pustaka Suryatikta

🪶 TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah menelusuri mahakarya Empu Tantular, renungkanlah:

  • ❓ Bagaimana ajaran toleransi dalam Kakawin Sutasoma relevan dengan kehidupan berbangsa saat ini?
  • ❓ Apa makna pengorbanan Sutasoma bagi harimau betina dan para raja yang ditawan?
  • ❓ Dari kisah Sutasoma, apa yang bisa kita petik tentang dharma dan kewajiban seorang pemimpin?
“Setiap orang bisa membaca lontar, tapi hanya penelusur sejati yang menangkap makna di balik aksara.”

🏮 KESIMPULAN

Kakawin Sutasoma bukan sekadar karya sastra kuno. Ia adalah mahakarya yang mengandung nilai-nilai universal tentang toleransi, pengorbanan, dan dharma. Dari lembaran lontarnya, lahirlah semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang menjadi perekat bangsa Indonesia hingga kini. Empu Tantular telah mewariskan pesan abadi bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan kekayaan yang harus dijaga. Sebagai generasi penerus, sudah sepatutnya kita merenungkan dan mengamalkan pesan luhur ini.

"Bhinneka Tunggal Ika — berbeda-beda, tetap satu jua."
📘 Facebook 🐦 Twitter 📱 WhatsApp

🔗 JELAJAHI SASTRA & NASKAH LAINNYA

✦ Lanjutkan petualangan menelusuri khazanah sastra Nusantara ✦


🔗 Baca Juga:

📚 Referensi: Dinas Pendidikan Bali (1993). Dwi Woro R. Mastuti & Hastho Bramantyo (2009). Poerbatjaraka (1952). Soewito Santoso (1975). I Gusti Bagus Sugriwa (1959-1961). P.J. Zoetmulder (1974, 1983). Sumber-sumber sejarah lainnya.

🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Sastra, Sejarah, dan Peradaban.

📌 Playlist Tutur Tinular
🔍 #KakawinSutasoma #BhinnekaTunggalIka #EmpuTantular #Majapahit #SastraJawaKuno

© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Site. Pusaka Obor Suryatikta: Menerangi Jejak Sastra, Menjaga Marwah Bangsa.

"Dari masa silam, untuk masa depan yang lebih terang."

⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Gambar sampul buku dokumentasi. Artikel disusun dari berbagai sumber sejarah dan sastra primer serta sekunder.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Database Artikel

    paling banyak dibaca