Jumat, 20 Februari 2026

Kakawin Nagarakretagama: Kronik Keemasan Majapahit, Warisan Memori Dunia UNESCO

Empu Prapanca • 1365 M • ęĶęĶęĶŪꦶęĶĪ꧀ęĶĪꦴęĶ’ęĶŦęĶꦽęĶ ꦴęĶ’ęĶĐ

📜 Dokumentasi Pustaka Suryatikta • 📚 Sastra & Naskah • 📅 2026 Saka
Menyongsong Kebangkitan Nusantara
Naskah Kakawin Nagarakretagama

Naskah Kakawin Nagarakretagama — Kronik puncak kejayaan Majapahit yang ditulis oleh Empu Prapanca tahun 1365 M.

🖞️ Koleksi Dokumentasi Sejarah
ðŸŠķ TELUSUR MAJAPOST

Di tengah kejayaan Majapahit, seorang pujangga istana menuliskan kronik yang melampaui zaman. Kakawin Nagarakretagama, atau Desyawarnana, adalah mahakarya Empu Prapanca yang mengabadikan puncak keemasan kerajaan Nusantara. Dari silsilah raja hingga wilayah kekuasaan, dari upacara keagamaan hingga kehidupan istana, naskah ini menjadi jendela utama untuk memahami Majapahit. Diakui UNESCO sebagai Warisan Memori Dunia, mari menelusuri keagungan sastra dan sejarah yang terkandung di dalamnya.

Judul: Kakawin Nagarakretagama / Desyawarnana

Aksara Jawa: ęĶęĶęĶŪꦶęĶĪ꧀ęĶĪꦴęĶ’ęĶŦęĶꦽęĶ ꦴęĶ’ęĶĐ

Pengarang: Empu Prapanca (Dang Acarya Nadendra)

Tahun Penulisan: 1365 M (Bulan Aswina, Saka 1287)

Bahasa: Jawa Kuno (Kawi)

Jumlah Pupuh: 98 pupuh

Masa: Puncak kejayaan Majapahit (Hayam Wuruk)

Status: Warisan Memori Dunia UNESCO (2008)

Penyimpanan: Perpustakaan Nasional RI (NB 9)

Kakawin Nagarakretagama (aksara Jawa: ęĶęĶęĶŪꦶęĶĪ꧀ęĶĪꦴęĶ’ęĶŦęĶꦽęĶ ꦴęĶ’ęĶĐ) atau disebut juga Kakawin Desyawarnana (ęĶęĶęĶŪꦶęĶĪ꧀ęĶĒꦺęĶŊęĶŪꦂę꧀͟ęĶĪęĶĪ) adalah kakawin Jawa Kuno yang paling termasyhur. Karya sastra ini ditulis oleh Empu Prapanca, seorang juru tulis dan pujangga Kerajaan Majapahit pada tahun 1365 M (Saka 1287), di masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Nagarakretagama merupakan kakawin yang paling banyak diteliti dan menjadi sumber sejarah primer terpenting untuk memahami struktur pemerintahan, wilayah kekuasaan, silsilah raja, serta kehidupan sosial budaya Majapahit pada puncak kejayaannya.

🔍 SEJARAH PENEMUAN NASKAH

Naskah Nagarakretagama pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1894 oleh J.L.A. Brandes, seorang ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok. Ia menyelamatkan isi perpustakaan Raja Lombok, Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem di Cakranagara, sesaat sebelum istana sang raja dibakar oleh tentara KNIL. Di antara ratusan naskah lontar yang diselamatkan, terdapat naskah Nagarakretagama yang kemudian dikenal sebagai bagian dari Koleksi Lombok yang termasyhur.

Naskah ini disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda dengan kode L Or 5.023. Pada tahun 1973, melalui kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia, naskah ini diserahkan kembali kepada Republik Indonesia. Kini naskah asli Nagarakretagama disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan kode NB 9.

Setelah itu, ditemukan lima naskah lain Nagarakretagama di Bali, termasuk satu naskah berjudul Deçawarnana di Amlapura, Karangasem, serta naskah-naskah dari Geria Pidada (Klungkung), Geria Carik Sideman, dan Puri Agung Kanginan Buleleng.

🏆 WARISAN MEMORI DUNIA UNESCO

Pada tahun 2008, Kakawin Nagarakretagama diakui sebagai bagian dalam Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO. Pengakuan ini menegaskan nilai universal dan pentingnya naskah ini bagi peradaban dunia.

📜 JUDUL DAN PENAMAAN

Judul Nagarakretagama memiliki arti "negara dengan tradisi (agama) yang suci". Menariknya, nama ini tidak disebut dalam kakawin tersebut. Pada pupuh 94/2, Empu Prapanca menyebut ciptaannya Deçawarnana atau "uraian tentang desa-desa". Namun, nama yang diberikan oleh pengarangnya tersebut malah dilupakan oleh umum.

Nama Nagarakretagama tercantum pada kolofon naskah yang digarap Dr. J.L.A. Brandes: "Iti Nagarakretagama Samapta". Nama ini adalah tambahan seorang penyalin bernama Arthapamasah dari Singarsa (Sidemen, Karangasem, Bali) pada bulan Kartika tahun saka 1662 (20 Oktober 1740 Masehi). Nagarakretagama lambat laun kemudian disalin dengan huruf Bali, sehingga sampai sekarang tidak ditemukan satupun kitab ini dalam aksara selain Bali.

✍️ EMPU PRAPANCA: SANG PENGARANG

Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi). Penulisnya menggunakan nama samaran Prapanca. Berdasarkan analisis kesejarahan, diketahui bahwa penulis naskah ini adalah Dang Acarya Nadendra, bekas pembesar urusan agama Buddha di istana Majapahit. Ia adalah putra dari seorang pejabat istana dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan (pejabat negara urusan agama Buddha).

Penulis naskah ini menyelesaikan naskah kakawin Nagarakretagama di usia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana. Hingga sekarang, umumnya diketahui bahwa pujangga "Mpu Prapanca" adalah penulis Nagarakretagama.

“Prapanca menulis bukan atas perintah raja, tetapi murni dari kehendaknya sendiri untuk menghaturkan bhakti kepada sang mahkota, serta berharap agar sang Raja ingat sang pujangga yang dulu pernah berbakti di keraton Majapahit.” — Pustaka Suryatikta

📖 STRUKTUR ISI NAGARAKRETAGAMA

Kakawin Nagarakretagama ditulis dalam bentuk kakawin (syair) Jawa Kuna. Tiap kakawin terdiri dari empat baris, disebut pada. Tiap barisnya terdiri dari delapan hingga 24 suku-kata, disebut matra. Naskah kakawin ini terdiri dari 98 pupuh, dibagi dalam dua bagian, yang masing-masing terdiri dari 49 pupuh.

Bagian Pertama (Pupuh 1–49)

  • Pupuh 1–7: Tentang raja dan keluarganya
  • Pupuh 8–16: Tentang kota dan wilayah Majapahit
  • Pupuh 17–39: Perjalanan keliling Lumajang
  • Pupuh 40–44: Silsilah raja-raja Majapahit dari Rangga Rajasa hingga Kertanegara
  • Pupuh 45–49: Silsilah dari Kertarajasa Jayawardhana sampai Hayam Wuruk

Bagian Kedua (Pupuh 50–98)

  • Pupuh 50–59: Perjalanan Hayam Wuruk berburu di hutan Nandawa hingga pulang ke Majapahit
  • Pupuh 60: Oleh-oleh dari pelbagai daerah yang dikunjungi
  • Pupuh 61–70: Perhatian Raja Hayam Wuruk kepada leluhurnya berupa pesta srada
  • Pupuh 71-72: Berita kematian Patih Gajah Mada
  • Pupuh 73–82: Tentang bangunan-bangunan suci di Jawa dan Bali
  • Pupuh 83–91: Upacara keagamaan berkala di Majapahit
  • Pupuh 92–94: Pujian para pujangga yang setia kepada raja, termasuk Prapanca
  • Pupuh 95–98: Nasib Prapanca sendiri

👑 NAGARAKRETAGAMA SEBAGAI PUJASASTRA

Kakawin Nagarakretagama bersifat pujasastra, artinya karya sastra yang menyanjung dan mengagung-agungkan Raja Majapahit Hayam Wuruk, serta kewibawaan kerajaan Majapahit. Akan tetapi, karya ini bukanlah disusun atas perintah Hayam Wuruk sendiri dengan tujuan politik pencitraan diri ataupun legitimasi kekuasaan. Melainkan murni kehendak sang pujangga Mpu Prapanca yang ingin menghaturkan bhakti kepada sang mahkota, serta berharap agar sang Raja ingat sang pujangga yang dulu pernah berbakti di keraton Majapahit.

Karena bersifat pujasastra, hanya hal-hal yang baik yang dituliskan, hal-hal yang kurang memberikan sumbangan bagi kewibawaan Majapahit, meskipun mungkin diketahui oleh sang pujangga, dilewatkan begitu saja. Karena hal inilah peristiwa Pasunda Bubat tidak disebutkan dalam Nagarakretagama, meskipun itu adalah peristiwa bersejarah, karena insiden itu menyakiti hati Hayam Wuruk.

Terlepas dari sifatnya yang tidak netral, Nagarakretagama dianggap sangat berharga karena memberikan catatan dan laporan langsung mengenai kehidupan di Majapahit.

🌏 WILAYAH KEKUASAAN MAJAPAHIT

Bagian terpenting dari Nagarakretagama adalah uraian mengenai daerah-daerah "wilayah" kerajaan Majapahit yang harus menghaturkan upeti. Kakawin ini menyebutkan wilayah kekuasaan Majapahit yang membentang dari Sumatra hingga Papua, termasuk:

  • Sumatra: Palembang, Jambi, Dharmasraya, Tumihat, Minangkabwa, dll
  • Semenanjung Malaya: Pahang, Tumasik (Singapura), Kelantan, Kedah, dll
  • Kalimantan: Tanjungpura, Kapuas, Katingan, Sampit, dll
  • Sulawesi: Luwu, Buton, Banggai, dll
  • Nusa Tenggara: Bali, Lombok, Sumba, Timor, dll
  • Maluku dan Papua: Maluku, Onin, Seram, dll

ðŸ“Ķ NASKAH DAN WARISAN

Teks Nagarakretagama semula dikira hanya terwariskan dalam sebuah naskah tunggal yang diselamatkan oleh Brandes. Namun setelah itu ditemukan lima naskah lain di Bali. Semua naskah ini ditulis dalam aksara Bali, membuktikan bahwa tradisi penyalinan kakawin ini berlangsung aktif di Bali selama berabad-abad.

Selain diakui UNESCO, Nagarakretagama juga telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional Indonesia dengan Nomor Registrasi Nasional CB.27 dan SK Menteri No. 280/M/2014.

📚 PENERBITAN DAN TERJEMAHAN

  • 1902: J.L.A. Brandes menerbitkan edisi pertama dalam bahasa Belanda
  • 1919: H. Kern & N.J. Krom, Het Oud-Javaansche Lofdicht Nāgarakŗtāgama
  • 1953: Slametmuljana, Prapantja:Nagarakretagama (terjemahan Indonesia pertama)
  • 1960-1963: Th. Pigeaud, Java in the Fourteenth Century (4 volume, terjemahan Inggris)
  • 1979: Slamet Muljana, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya
  • 1995: S.O. Robson, Desawarnana (Nagarakrtagama), terjemahan Inggris modern
  • 2006: Slamet Muljana, Tafsir Sejarah Nagara Kretagama (cetak ulang)

ðŸŠķ TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah menelusuri mahakarya Empu Prapanca, renungkanlah:

  • ❓ Mengapa Nagarakretagama disebut sebagai sumber sejarah primer terpenting untuk memahami Majapahit?
  • ❓ Apa yang bisa kita petik dari semangat Empu Prapanca yang menulis karya besar ini di usia senja?
  • ❓ Dari struktur isi yang sangat rapi, apa yang bisa kita pelajari tentang sistem pemerintahan Majapahit?
“Setiap orang bisa membaca lontar, tapi hanya penelusur sejati yang menangkap makna di balik aksara.”

ðŸŪ KESIMPULAN

Kakawin Nagarakretagama bukan sekadar karya sastra kuno. Ia adalah jendela utama untuk memahami puncak kejayaan Majapahit. Dari silsilah raja hingga wilayah kekuasaan, dari kehidupan istana hingga upacara keagamaan, naskah ini memberikan gambaran utuh tentang bagaimana sebuah kerajaan besar Nusantara dikelola. Pengakuan UNESCO sebagai Warisan Memori Dunia menegaskan nilai universalnya. Melalui Nagarakretagama, Empu Prapanca telah mewariskan bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga semangat kebesaran yang terus menginspirasi generasi penerus.

"Nagarakretagama — dari lontar Lombok, untuk dunia."
📘 Facebook ðŸĶ Twitter ðŸ“ą WhatsApp

🔗 JELAJAHI SASTRA & NASKAH LAINNYA

✦ Lanjutkan petualangan menelusuri khazanah sastra Nusantara ✦


🔗 Baca Juga:

📚 Referensi: Brandes, J.L.A. (1902). Slamet Muljana (2006). Th. Pigeaud (1960-1963). S.O. Robson (1995). C.C. Berg (1962). Perpustakaan Nasional RI. UNESCO Memory of the World. Sumber-sumber sejarah lainnya.

🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Sastra, Sejarah, dan Peradaban.

📌 Playlist Tutur Tinular
🔍 #Nagarakretagama #Majapahit #EmpuPrapanca #UNESCO #SastraJawaKuno

© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Site. Pusaka Obor Suryatikta: Menerangi Jejak Sastra, Menjaga Marwah Bangsa.

"Dari masa silam, untuk masa depan yang lebih terang."

⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Gambar dokumentasi naskah. Artikel disusun dari berbagai sumber sejarah dan sastra primer serta sekunder. Tidak ada yang ketiplek, dijamin teliti!

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Database Artikel

    paling banyak dibaca