Kakawin Arjunawijaya: Kisah Arjuna Sahasrabahu Melawan Rahwana, Karya Agung Empu Tantular
KAKAWIN ARJUNAWIJAYA: KISAH ARJUNA SAHASRABAHU MELAWAN RAHWANA, KARYA AGUNG EMPU TANTULAR
🪶 TELUSUR MAJAPOST
Di masa keemasan Majapahit, seorang pujangga besar menuliskan kisah epik tentang pertarungan abadi antara dharma dan adharma. Kakawin Arjunawijaya, karya Empu Tantular, mengisahkan peperangan antara Raja Arjuna Sahasrabahu yang bertangan seribu melawan Rahwana, raja raksasa dari Alengka. Sarat dengan nilai-nilai filosofis, keindahan sastra, dan ajaran moral, kakawin ini menjadi salah satu mahakarya sastra Jawa Kuno yang paling penting. Mari menelusuri keagungan kisah, konvensi sastra, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Kakawin Arjunawijaya adalah salah satu naskah klasik berbahasa Jawa Kuno yang digubah oleh Empu Tantular pada abad ke-14, di masa keemasan Kerajaan Majapahit. Kakawin ini mengisahkan peperangan antara Prabu Arjuna Sahasrabahu melawan pendeta Parasu Rama, berdasarkan Uttara Kanda, bagian terakhir dari epik Ramayana (Sanskerta). Cerita ini sangat populer, terbukti dari adanya berbagai naskah dalam bahasa Bali dan Jawa Kuno. Versinya dalam bahasa Jawa Baru dalam bentuk tembang diusahakan oleh Raden Ngabehi Sindusastra dari Surakarta dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1930. Kakawin Arjunawijaya dikenal pula dengan Lampahan Arjuna Sasrabahu yang sering dipertunjukkan dalam pergelaran wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang.
📖 SINOPSIS KAKAWIN ARJUNAWIJAYA
Diceritakan tentang Raja Raksasa Mali Malyawan yang dikalahkan oleh Dewa Wisnu sehingga ia melarikan diri dari kerajaannya yang bernama Lengka. Untuk mengisi kekosongan kerajaan, maka Waisrawana, putra Wisrawa, menempati kerajaan itu. Raksasa Sumali, yang merupakan keluarga Mali Malyawan, sangat tertarik dengan kepandaian dan kesaktian Waisrawana dan ingin memiliki keturunan yang serupa agar dapat membalas dendam kepada Dewa Wisnu.
Kekasi berhasil memenuhi harapan ayahnya. Dari perkawinannya dengan Wisrawa lahirlah empat orang anak: Dasamukha (yang berkepala sepuluh), Kumbhakarna, Wibhisana, dan Surpanakha. Ketiga anak laki-laki Wisrawa itu melakukan tapa brata yang keras di Gunung Gokarna.
Anugerah dan Kutukan
Dasamukha bertapa dengan memenggal kepalanya satu persatu dan melemparkannya ke api korban, sehingga ia mendapat anugerah kesaktian dari Dewa Brahma: ia tidak dapat dibunuh oleh Dewa maupun Raksasa. Setelah itu, ia dipulihkan kembali seperti semula. Dengan kesaktiannya, Dasamukha (kemudian dikenal sebagai Rahwana) selalu berbuat jahat dan meresahkan dunia.
Waisrawana (Daneswara), kakak tirinya, merasa prihatin dan menasihatinya melalui utusan Gomuka. Rahwana marah dan memenggal kepala Gomuka. Sebelum wafat, Gomuka mengutuk bahwa istana Rahwana kelak akan dibakar oleh seorang utusan. Rahwana kemudian menyerang Kerajaan Lengka dan menguasainya.
Petualangan Rahwana
Rahwana melanjutkan petualangannya hingga ke Gunung Kailasa, tempat Dewa Siwa dan Dewi Uma bercengrama. Nandi, penjaga gunung, mengingatkan Rahwana agar tidak mengganggu, namun Rahwana menghina wajah Nandi yang mirip kera. Nandi marah dan mengutuk bahwa kera akan menghancurkan keraton Rahwana. Rahwana kemudian mengangkat dan mengguncangkan gunung Kailasa, sehingga Dewa Siwa menekan puncaknya dan menjepit Rahwana. Rahwana berteriak keras kesakitan, sehingga ia disebut Rahwana (yang berarti "teriakan").
Rahwana kemudian bertemu dengan pertapa cantik bernama Dewi Wedawati yang bertekad hanya akan menikah dengan awatara Wisnu. Rahwana merayunya, namun Dewi Wedawati marah dan menceburkan diri ke api pemujaan. Sebelum wafat, ia mengutuk Rahwana bahwa dalam penjelmaan berikutnya ia akan menjadi penyebab kematian Rahwana di tangan Dewa Wisnu.
Pertempuran dengan Arjuna Sahasrabahu
Diceritakan seorang raja bernama Arjuna Sahasrabahu, raja Kerajaan Mahispati, sedang bercengrama dengan permaisurinya Dewi Citrawati di Sungai Narmada. Untuk menyenangkan permaisurinya, ia mengubah wujudnya menjadi bertangan seribu dan membentangkan badannya di sungai sehingga menjadi dangkal.
Di hulu sungai, Rahwana sedang melakukan pemujaan di hadapan sebuah Lingga. Tiba-tiba air naik dan menggenangi tempatnya. Rahwana marah dan memerangi Kerajaan Mahispati. Dengan kecerdikannya, Arjuna Sahasrabahu berhasil membuat Rahwana pingsan, mengikatnya dengan rantai baja, dan memasukkannya ke kerangkeng besi.
Akhir Cerita
Setelah kembali dari medan perang, Arjuna Sahasrabahu mendapati permaisurinya telah wafat karena mengira suaminya tewas. Ia hendak bunuh diri, namun muncul perwujudan Dewi Sungai Narmada yang membawa air mujarab sehingga sang permaisuri hidup kembali. Datanglah Rsi Pulastya, kakek Rahwana, memohon agar Rahwana dibebaskan. Arjuna Sahasrabahu mengabulkan permohonan tersebut.
📝 KONVENSI BAHASA
Bahasa yang digunakan dalam Kakawin Arjunawijaya adalah bahasa Jawa Kuno dengan banyak kata serapan dari bahasa Sanskerta. Berikut adalah contoh kutipan dalam bahasa Jawa Kuno beserta terjemahannya:
"Tanghëh yan ucapën sapolah ikanang Dasamuka kalàwan balàsura, Sukhàmbëkati ghora nora juga tan alaha sahananing puràntara, Sangàrjuna Sahasrabahu caritan prabhu paramawisesa digjaya, Sireka siniwìng Mahispati kadhatwanira kadi Mahëswara laya."
Terjemahan: "Panjang jika diceritakan tingkah Rahwana dan bala tentara raksasanya, senang berbuat jahat juga tidak ada kerajaan lain yang mengalahkan, diceritakan seorang raja yang sangat termasyur bernama Arjuna Sahasrabàhu, dia memerintah Mahispati kerajaannya bagaikan Istana Dewa Siwa."
Gaya Bahasa
- Perumpamaan (Simile): "Goyangan bunga-bunga yang diterpa angin, bagaikan penolakan dinda kini saat dipeluk."
- Personifikasi: "Kabutnya menutup pohon pinang gading bagaikan selendang menutupi payudara seorang gadis."
- Hiperbola: "Berdengung semua tuli seisi tiga dunia, para dewa kaget menjerit... seperti petir seratus ribu bersamaan mengglegar."
✨ KEINDAHAN BAHASA
Sabdàlangkara (Hiasan Bunyi)
Anuprasa (Purwakanti) — persamaan bunyi konsonan dalam bait:
"Lìlàlon larising ràthà tùti lëbuhning dharma kirnà ngelor Ràmyàkweh tikanang tuminghali siràn strì-strì manìnjo kabeh..."
Yamaka — pengulangan kata atau suku kata, seperti Kanci Yamaka (kata terakhir diulang di baris berikutnya) dan Puspayamaka (suku kata terakhir tiap baris sama).
Arthàlamkara (Hiasan Makna)
Kakawin ini juga kaya dengan berbagai gaya bahasa seperti Rupaka (metafora), Vyatireka (hiperbolis), Slesa (polisemi), Atisyokti (perbandingan tak terbandingkan), dan Ninda Stuti (pujian melalui celaan).
🕉️ NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG
Nilai Religius
Kakawin Arjunawijaya sarat dengan nilai-nilai religius Hindu. Tokoh-tokoh seperti Rahwana dan saudara-saudaranya, meskipun digambarkan jahat, tetap menjalankan tapa brata dan semadi sebagai wujud bakti kepada Tuhan. Ketaatan mereka dalam melakukan pemujaan dengan yoga, tapa, dan japa menunjukkan nilai religius yang tinggi.
"Tan warnan pakurënireki tumijil anak pat huwus, Ndah yekàn pamangun tapa brata padhàgöng yogha dhirà japa..."
(Tidak diceritakan tentang perkawinannya, telah lahirlah empat orang anak. Kemudian mereka melakukan tapa brata, sama hebat dalam yoga dan japa.)
Nilai Etika
Nilai etika tercermin pada tokoh Dewi Wedawati yang memiliki sikap bakti kepada orang tua. Ia memilih hidup sebagai pertapa setelah kedua orang tuanya wafat karena merasa bersalah menjadi penyebab kematian mereka. Ia juga bertekad memenuhi pesan orang tuanya yang menginginkan menantu seorang awatara Wisnu.
Nilai Estetika
Keindahan dalam Kakawin Arjunawijaya terpancar melalui lukisan alam dan kecantikan tokoh. Pengarang dengan cermat memilih kata-kata untuk menggambarkan keindahan pegunungan, hutan, sungai, serta kecantikan para wanita, sehingga pembaca dapat merasakan pengalaman estetik yang mendalam.
☸️ KONSEP SIWA-BUDDHA DALAM KAKAWIN
Kakawin Arjunawijaya mencerminkan toleransi beragama yang tinggi antara ajaran Siwa dan Buddha, yang berkembang pesat pada masa Majapahit. Dalam manggala (pembukaan) kakawin ini, pengarang memuja Dewa Siwa yang dipersamakan dengan Buddha. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu, kedua agama diakui sejajar dan hidup berdampingan secara harmonis.
"Ong Srì parwataràja dewa huriping sarwa pramaneng jagat, Sang sàksat paramàrtha Buddha kinëñëp sang siddha yogìswara..."
(Om Sri parwataraja yang menghidupi semua makhluk di bumi, Dia bagaikan Buddha yang diheningkan oleh para yogi yang sempurna...)
📚 KONVENSI SASTRA
Manggala (Pembukaan)
Manggala Kakawin Arjunawijaya memuat pemujaan kepada Dewa Siwa (Srì Parwataràja) yang dipersamakan dengan Buddha, serta doa dan harapan agar raja panjang umur dan sejahtera.
Inti Cerita
Mengisahkan tentang kemenangan dharma (kebaikan) yang diwakili Arjuna Sahasrabahu melawan adharma (kejahatan) yang diwakili Rahwana.
Penutup
Bagian penutup menunjukkan kerendahan hati pengarang, mengakui bahwa karyanya mungkin banyak dicela, namun tetap berharap dapat menghasilkan karya yang indah.
🪶 TELUSUR LEBIH DALAM
Setelah menelusuri mahakarya Empu Tantular, renungkanlah:
❓ Bagaimana konsep Siwa-Buddha dalam Kakawin Arjunawijaya mencerminkan toleransi beragama di Majapahit?
❓ Apa makna simbolis dari tokoh Rahwana yang bertapa untuk mendapatkan kesaktian, meskipun ia berwatak jahat?
❓ Dari kisah Dewi Wedawati, apa yang bisa kita petik tentang kesetiaan dan pengorbanan?
"Setiap orang bisa membaca aksara, tapi hanya penelusur sejati yang menangkap makna di balik kisah."
🏮 KESIMPULAN
Kakawin Arjunawijaya adalah mahakarya sastra Jawa Kuno yang tidak hanya menyajikan kisah epik pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, tetapi juga kaya akan nilai-nilai filosofis, religius, dan estetika. Sebagai karya Empu Tantular, kakawin ini melengkapi pemahaman kita tentang kejayaan sastra Majapahit bersama Kakawin Sutasoma dan Nagarakretagama. Dari keindahan bahasanya, konvensi sastranya yang khas, hingga ajaran moral yang terkandung di dalamnya, Arjunawijaya menjadi bukti bahwa Nusantara pernah memiliki peradaban sastra yang sangat maju dan berpengaruh hingga lintas zaman.
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar