Senin, 23 Februari 2026

Kupat dan Lepet: Hidangan Istimewa Para Bangsawan Majapahit yang Kini Jadi Menu Lebaran

Oleh: Eyang Ananta Prabhavasta — Sejarawan Kuliner Nusantara, Pengkaji Naskah Kuno
📅 23 Februari 2026 | 🍚 Kuliner Kuno | 👑 Hidangan Bangsawan | 📜 Kakawin | 🏛️ Majapahit
Menyongsong Kebangkitan Nusantara
Lepet dan Opor Ayam
Lepet dan opor ayam — hidangan istimewa yang kini identik dengan Lebaran, namun jejaknya sudah ditemukan di meja para bangsawan Majapahit
"Bukan sekadar jajanan pinggir jalan. Di zaman Majapahit, kupat dan lepet adalah hidangan istimewa yang hanya disajikan untuk para bangsawan dan dalam upacara-upacara kerajaan."
🪶 TELUSUR MAJAPOST

Setiap Lebaran, jutaan keluarga di Nusantara menyajikan kupat dan lepet sebagai hidangan istimewa. Namun, siapa sangka bahwa tradisi ini berakar jauh ke belakang, hingga ke masa kejayaan Majapahit? Lebih dari itu, kupat dan lepet di masa lampau bukanlah sekadar jajanan biasa—ia adalah hidangan istimewa yang hanya disajikan untuk para bangsawan dan dalam upacara-upacara kerajaan.

📜 JEJAK KUPAT DALAM NASKAH KUNO

Kupat ternyata sudah disebut dalam beberapa naskah kuno jauh sebelum era kerajaan Islam, tepatnya pada periode Kerajaan Kadiri (abad ke-11 hingga ke-12). Beberapa kakawin yang menyebut keberadaan kupat antara lain:

  • Kakawin Ramayana — Versi Jawa Kuno dari wiracarita India ini sudah menyebut kupat sebagai hidangan yang disajikan di istana.
  • Kakawin Subadra Wiwaha — Naskah dari era Kadiri ini juga mencatat keberadaan kupat dalam daftar makanan istimewa.
  • Kakawin Krishnayana — Kakawin yang mengisahkan Krishna ini turut menyebut kupat sebagai hidangan para bangsawan.

Keberadaan kupat dalam tiga kakawin berbeda dari era yang sama membuktikan bahwa hidangan ini sudah menjadi bagian penting dari budaya kuliner Jawa kuno, khususnya di kalangan istana.

👑 LEPET: HIDANGAN PARA BANGSAWAN MAJAPAHIT

Jika kupat sudah ada sejak era Kadiri, lepet tercatat dalam naskah dari masa yang lebih dekat dengan Majapahit. Kakawin Korawasrama yang diduga berasal dari masa Kerajaan Majapahit menyebut lepet sebagai salah satu kuliner yang disajikan di lingkungan istana.

Berbeda dengan kupat yang terbuat dari beras, lepet dibuat dari ketan, kacang-kacangan, kelapa parut, dan garam—bahan-bahan yang menunjukkan bahwa hidangan ini memang dirancang sebagai makanan istimewa, bukan sekadar camilan biasa. Proses pembuatannya yang rumit, dengan membungkus adonan dalam janur lalu merebusnya hingga matang, menjadikan lepet sebagai hidangan yang layak disajikan di meja para raja dan bangsawan.

🎋 MAKNA FILOSOFIS DI BALIK JANUR

Baik kupat maupun lepet sama-sama menggunakan janur (daun kelapa muda) sebagai pembungkus. Dalam tradisi Jawa, janur memiliki makna simbolis yang dalam: ia melambangkan cahaya atau petunjuk. Warna kuning janur dianggap sebagai simbol kemuliaan dan keagungan, cocok untuk hidangan yang disajikan kepada para bangsawan.

Di era Majapahit, penggunaan janur sebagai pembungkus makanan juga menunjukkan bahwa hidangan ini dirancang untuk dibawa dalam perjalanan. Para bangsawan dan utusan kerajaan yang melakukan perjalanan jauh sering membawa bekal berupa lepet yang tahan lama dan praktis.

🏯 DARI MEJA ISTANA KE MEJA LEBARAN

Bagaimana hidangan istimewa para bangsawan Majapahit ini kemudian menjadi hidangan khas Lebaran? Jawabannya terletak pada proses akulturasi budaya yang panjang.

Ketika Islam mulai menyebar di tanah Jawa, para wali dan penyebar agama menggunakan pendekatan budaya yang halus. Mereka tidak menghapus tradisi yang sudah ada, tetapi memberikan makna baru yang sesuai dengan ajaran Islam. Kupat yang awalnya hanya hidangan istimewa, kemudian diberi filosofi baru: "kupat" dikaitkan dengan "ngaku lepat" (mengakui kesalahan), sebuah tradisi yang sangat cocok dengan momen Lebaran setelah sebulan berpuasa.

Sementara lepet, dari kata "silep rapet" (menyimpan rapat-rapat), dimaknai sebagai momen untuk menyimpan rapat-rapat kesalahan yang telah diakui, tidak perlu diungkit lagi di masa depan. Filosofi yang indah ini membuat kupat dan lepet semakin lekat dengan tradisi Lebaran.

Akhir-akhir ini juga muncul klaim bahwa kupat berasal dari bahasa Arab "kafa kafat" atau "hufat" yang berarti kembali pada kesempurnaan. Apapun asal-usul bahasanya, yang jelas kupat dan lepet adalah hidangan yang telah menemani perjalanan bangsa ini sejak era kerajaan Hindu-Buddha, berakulturasi dengan nilai-nilai Islam, dan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran Nusantara.

🍽️ HIDANGAN LENGKAP PARA BANGSAWAN

Di meja para bangsawan Majapahit, kupat dan lepet tidak disantap sendirian. Mereka biasanya disajikan bersama hidangan berkuah seperti opor ayam atau sayur lodeh. Perpaduan antara gurihnya santan, kenyalnya ketan, dan lembutnya beras yang dibungkus janur menciptakan harmoni rasa yang istimewa—pantas untuk lidah para raja.

Gambar yang menyertai artikel ini memperlihatkan lepet yang disajikan dengan opor ayam—sebuah kombinasi yang sudah dinikmati sejak ratusan tahun lalu dan masih bertahan hingga kini. Inilah bukti bahwa cita rasa yang enak tidak pernah lekang oleh waktu.

📚 REKOMENDASI BUKU

Bagi yang ingin mendalami lebih jauh tentang sejarah Nusantara, video ini juga menyebutkan buku "Rahasia Nusantara" terbitan ASISI Channel. Buku ini memuat reportase sejarah dan catatan perjalanan ke berbagai candi, yang dapat menjadi referensi bagi para pecinta sejarah.

🔍 TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah mengetahui sejarah panjang kupat dan lepet, coba renungkan:

  • ❓ Ketika kamu menyantap kupat dan lepet saat Lebaran, tahukah kamu bahwa makanan ini juga dinikmati para bangsawan Majapahit 700 tahun lalu?
  • ❓ Apa makna filosofis kupat dan lepet yang paling berkesan bagimu: "ngaku lepat" atau "silep rapet"?
  • ❓ Makanan tradisional apa lagi yang menurutmu perlu dilestarikan dan dikaji sejarahnya?
"Kupat dan lepet bukan sekadar makanan. Ia adalah jembatan rasa yang menghubungkan kita dengan leluhur, melintasi zaman dari Majapahit hingga Lebaran hari ini."

🏮 KESIMPULAN

Kupat dan lepet adalah bukti hidup bahwa tradisi kuliner Nusantara memiliki akar yang dalam. Ia lahir sebagai hidangan istimewa para bangsawan Majapahit, tercatat dalam kakawin-kakawin dari abad ke-11 hingga ke-12, kemudian berakulturasi dengan nilai-nilai Islam, dan kini menjadi hidangan wajib saat Lebaran.

Di balik setiap gigitan kupat dan lepet, tersimpan sejarah panjang tentang perjalanan bangsa ini: tentang kejayaan Majapahit, tentang kebijaksanaan para wali dalam menyebarkan agama, dan tentang kemampuan masyarakat Nusantara dalam mempertahankan warisan leluhur sambil tetap terbuka terhadap nilai-nilai baru.

Maka, saat Lebaran tiba dan kamu menyantap kupat lepet dengan opor ayam, ingatlah: kamu sedang menikmati hidangan yang sama yang pernah dinikmati para raja dan bangsawan Majapahit. Rasa itu adalah warisan, dan warisan itu adalah identitas kita.

"Kupat lepet — dari istana Majapahit, ke meja Lebaran Nusantara."
📘 Facebook 🐦 Twitter 📱 WhatsApp

🔗 Baca Juga:

📚 Referensi: Kakawin Ramayana, Kakawin Subadra Wiwaha, Kakawin Krishnayana, Kakawin Korawasrama, penelitian arkeologi kuliner Nusantara, tradisi lisan masyarakat Jawa.

🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Kuliner, Sejarah, dan Peradaban.

📌 Playlist Tutur Tinular
🔍 #Kupat #Lepet #KulinerMajapahit #HidanganBangsawan #Lebaran #SejarahKuliner #EyangAnantaPrabhavasta

© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Story. Pusaka Obor Suryatikta: Menerangi Jejak Kuliner, Menjaga Marwah Bangsa.

"Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."

⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Gambar dokumentasi kuliner tradisional Nusantara.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Smart Recommendations

Database Artikel

    paling banyak dibaca