Reog Ponorogo: Oposisi Konstruktif dari Era Majapahit
Oleh: Eyang Ananta Prabhavasta — Spiritualis, Sejarawan Majapahit
Video: Pertunjukan Reog Ponorogo
🎭 Reog Bukan Sekadar Tari Rakyat
Reog Ponorogo bukan sekadar tarian barongan biasa. Di balik kemegahan bulu merak yang menjulang, di balik kegagahan topeng singa yang dijinjing, tersimpan narasi sejarah yang dalam—sebuah oposisi konstruktif terhadap kekuasaan pusat Majapahit di masa lampau.
Konon, kesenian ini lahir dari keresahan seorang punggawa istana bernama Ki Ageng Kutu (atau dalam versi lain disebut Ki Ageng Mirah) di era Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ia menyaksikan kemerosotan wibawa kerajaan. Pengaruh kuat dari internal istana—terutama dari pihak permaisuri—membuat kebijakan kerajaan tak lagi berpihak pada rakyat.
Namun, alih-alih mengangkat senjata, melakukan pemberontakan fisik yang akan menghancurkan darah Nusantara sendiri, Ki Ageng Kutu memilih jalan yang lebih halus: seni.
🦁 Membongkar Simbolisme Reog
Setiap elemen dalam Reog Ponorogo adalah metafora politik yang cerdas:
- Dadak Merak: Susunan bulu merak yang megah menjulang itu melambangkan pengaruh kuat dari pihak permaisuri—sebuah kritik bahwa ada kekuatan asing (Cina) yang "menunggangi" kebijakan raja. Kepala harimau di bawahnya adalah simbol sang raja sendiri yang mulai kehilangan kendali.
- Bujang Ganong (Patih Pujangga Anom): Sosok ksatria bertopeng merah, cekatan, cerdik, namun jenaka. Ia menggambarkan para abdi negara yang harus pintar-pintar menyiasati kekacauan politik tanpa kehilangan loyalitas.
- Jathilan: Para penari kuda lumping yang gemulai namun energik. Mereka adalah rakyat biasa—pasukan rakyat yang selalu siap bergerak, meski kadang terlihat seperti kesurupan oleh keadaan.
- Warok: Sosok pendekar dewasa dengan kekuatan spiritual tinggi. Mereka adalah pengendali, penjaga moral, dan "dalang" di balik panggung perlawanan.
Reog tak pernah secara gamblang menyebut "raja salah" atau "permaisuri jahat". Ia menyampaikan kritik melalui keindahan. Penonton yang cerdas akan menangkap pesannya. Penguasa yang bijak akan menerima sebagai piwulang (pelajaran), bukan hinaan.
⚖️ Apa Itu Oposisi Konstruktif?
Dalam spiritualitas Nusantara, ada ajaran: "Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake" (Menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan).
Oposisi konstruktif adalah seni menyampaikan kebenaran tanpa menghancurkan tatanan. Ia tidak bertujuan meruntuhkan kekuasaan, melainkan meluruskan agar kembali pada rel Wahyu Keprabon—cahaya ilahi yang seharusnya menaungi seorang pemimpin.
Ki Ageng Kutu mengajarkan bahwa kritik bisa disampaikan lewat:
- Tarian dan gerak — bahasa tubuh yang lebih jujur daripada kata-kata.
- Simbol dan metafora — agar pesan tak mematikan, tapi membangunkan.
- Keindahan dan estetika — karena kebenaran yang disampaikan dengan kasar akan ditolak, tapi yang dibungkus keindahan akan meresap ke hati.
🌍 Dari Kritik Majapahit hingga Warisan Dunia
Reog Ponorogo tidak mati bersama runtuhnya Majapahit. Ia justru mengakar di kalangan rakyat, menjadi identitas, menjadi hiburan, dan tetap menjadi pengingat diam-diam bagi para penguasa di tanah Jawa—dari era Demak, Mataram, hingga Indonesia modern.
Pada 2013, UNESCO menetapkan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda yang membutuhkan perlindungan mendesak. Ini adalah pengakuan bahwa di balik gemerlap bulu merak, ada filosofi luhur yang harus dijaga.
Hingga hari ini, setiap kali topeng singa diangkat dengan gigi oleh sang pendadak, setiap kali gemericik bulu merak bergetar ditiup angin panggung, sejatinya Ki Ageng Kutu masih menyampaikan pesannya: "Kritiklah dengan cara yang membangun. Jadilah oposisi yang konstruktif. Karena Nusantara ini rumah kita bersama, tak perlu dihancurkan—cukup dibenahi."
🔥 Penutup: Warisan yang Tak Lapuk Zaman
Reog Ponorogo mengajarkan bahwa oposisi tak selalu harus garang dan penuh amarah. Ia bisa hadir dalam dentuman gamelan yang menggetarkan, dalam gerak para jathilan yang lincah, dalam keringat warok yang berbaur dengan doa.
Di setiap raungan singa barongan, ada suara rakyat yang ingin didengar.
Di setiap kibas bulu merak, ada harapan agar penguasa kembali bijak.
Mari kita jaga Reog. Bukan sekadar sebagai tontonan, tapi sebagai tuntunan—bahwa seni bisa menjadi jalan menyampaikan kebenaran tanpa kekerasan.
🔗 Baca Juga:
- Wayang Kulit: Warisan Agung Nusantara, Filosofi Hidup dalam Bayang-Bayang
- Seni Bantengan: Warisan Leluhur, Ekspresi Spiritual Masyarakat Jawa Timur
- Perang Bubat: Tangisan Leluhur di Antara Dendam Anak Cucu
🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Spiritual, Sejarah, Seni, dan Peradaban.
🔍 #ReogPonorogo #KiAgengKutu #SeniBudaya #OposisiKonstruktif #EyangAnantaPrabhavasta
© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Site. "Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar