Seni Bantengan: Warisan Leluhur, Ekspresi Spiritual Masyarakat Jawa Timur
SENI BANTENGAN: WARISAN LELUHUR, EKSPRESI SPIRITUAL MASYARAKAT JAWA TIMUR
🪶 TELUSUR MAJAPOST
Di lereng Gunung Arjuna, Malang, Jawa Timur, sebuah tradisi kuno terus berdenyut mengikuti irama jaman. Seni Bantengan, perpaduan antara kesenian, olah kanuragan, dan spiritualitas, menjadi napas masyarakat setempat. Di tengah arus modernisasi, seorang tokoh muncul sebagai garda terdepan pelestariannya: Gus Bas. Dengan keteguhan spiritual dan kecintaannya pada budaya leluhur, ia membangkitkan kembali kejayaan Bantengan, menjadikannya bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan hidup. Mari menelusuri jejak spiritual dan perjuangan Gus Bas dalam dunia pebantengan.
Seni Bantengan adalah salah satu warisan budaya takbenda yang berkembang di Jawa Timur, khususnya di daerah Malang, Batu, dan sekitarnya. Kesenian ini merupakan perpaduan antara tarian, musik, dan olah kanuragan yang menggambarkan kekuatan dan keperkasaan banteng. Lebih dari sekadar hiburan, Bantengan juga memiliki dimensi spiritual yang dalam, di mana para pemainnya sering kali mengalami kondisi trance (kesurupan) saat menari, diyakini sebagai manifestasi kekuatan gaib yang melindungi masyarakat.
🐂 SEJARAH DAN MAKNA SPIRITUAL BANTENGAN
Bantengan dipercaya telah ada sejak zaman Kerajaan Kanjuruhan dan Singhasari, yang kemudian berkembang pesat pada masa Majapahit. Banteng (lembu) merupakan hewan yang disucikan dalam tradis Hindu, dikaitkan dengan kendaraan Dewa Siwa, yaitu Nandi. Dalam konteks spiritual Jawa, Bantengan menjadi media komunikasi dengan leluhur dan kekuatan alam.
Ritual Bantengan biasanya diawali dengan doa dan pembacaan mantra oleh seorang pawang atau sesepuh. Para penari yang mengenakan topeng banteng kemudian menari mengikuti irama gamelan yang khas. Pada puncak pertunjukan, para penari akan mengalami trance, menunjukkan kekuatan supranatural seperti kekebalan terhadap senjata tajam atau kekuatan fisik yang luar biasa. Fenomena ini dipercaya sebagai tanda bahwa roh leluhur atau kekuatan gaib telah "masuk" ke dalam tubuh penari.
👤 GUS BAS: SANG PELESTARI DUNIA PEBANTENGAN
Gus Bas adalah nama yang tidak asing di kalangan pegiat seni Bantengan, khususnya di Malang Raya. Beliau dikenal sebagai tokoh spiritual yang memiliki pemahaman mendalam tentang ajaran leluhur dan kanuragan. Dengan latar belakang sebagai seorang kiai muda yang juga mendalami kebatinan Jawa, Gus Bas berhasil menjembatani dua kutub yang sering dipertentangkan: agama dan tradisi.
Dalam dunia pebantengan, Gus Bas tidak hanya berperan sebagai pelestari, tetapi juga sebagai pawang atau sesepuh yang memimpin jalannya ritual. Kemampuannya dalam membaca situasi spiritual dan mengendalikan energi para penari yang trance membuatnya disegani dan dihormati. Melalui grup-grup bantengan yang dibinanya, Gus Bas mengajarkan bahwa Bantengan bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjaga harmoni dengan alam.
"Seni Bantengan iku dudu mung tontonan, nanging uga tuntunan. Ing kono ana piwulang bab kekuatan, kawicaksanan, lan urip rukun karo alam."
— Gus Bas (dalam wawancara)
⚔️ PERJUANGAN GUS BAS MELESTARIKAN BANTENGAN
Di tengah gempuran budaya modern, Seni Bantengan sempat terpinggirkan dan dianggap kuno. Gus Bas bersama para pegiat lainnya bahu-membahu menghidupkan kembali kesenian ini. Mereka melakukan berbagai upaya, antara lain:
- Edukasi dan Pelatihan: Mengadakan pelatihan terbuka bagi generasi muda untuk belajar menari, memainkan gamelan, dan memahami filosofi Bantengan.
- Ritual dan Festival: Menggelar festival Bantengan secara rutin untuk memperkenalkan keindahan seni ini kepada khalayak luas.
- Pendampingan Spiritual: Memberikan pemahaman bahwa trance dalam Bantengan adalah fenomena spiritual yang harus dijaga kesakralannya, bukan sekadar atraksi.
- Dokumentasi dan Publikasi: Melalui video-video yang diunggah di media sosial, termasuk video yang Anda saksikan di atas, Gus Bas dan kawan-kawan berhasil menjangkau audiens yang lebih luas.
📸 GALERI SENI BANTENGAN
✨ NILAI-NILAI LUHUR DALAM BANTENGAN
Seni Bantengan mengandung nilai-nilai luhur yang relevan hingga kini:
- Kekuatan dan Keberanian: Banteng melambangkan kekuatan fisik dan mental, mengajarkan untuk berani menghadapi tantangan hidup.
- Kebersamaan dan Gotong Royong: Pertunjukan Bantengan melibatkan banyak orang, dari penari, pemusik, hingga pawang, mengajarkan pentingnya kerja sama.
- Spiritualitas dan Ketaqwaan: Ritual doa dan penghormatan kepada leluhur mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang lebih besar.
- Pelestarian Tradisi: Bantengan menjadi sarana untuk mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi.
🏮 KESIMPULAN
Seni Bantengan adalah warisan leluhur yang tak ternilai harganya. Di tangan tokoh-tokoh seperti Gus Bas, kesenian ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan mendapatkan tempat di hati generasi muda. Melalui perpaduan antara kekuatan seni, olah kanuragan, dan kedalaman spiritual, Bantengan menjadi cermin identitas masyarakat Jawa Timur yang kaya akan budaya. Mari kita dukung terus upaya pelestarian ini, agar generasi mendatang tetap dapat menyaksikan kegagahan banteng yang menari dalam irama gamelan, membawa pesan kearifan lokal yang abadi.
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar