Perang Bubat: Tangisan Leluhur di Antara Dendam Anak Cucu
Oleh: Eyang Ananta Prabhavasta — Spiritualis, Sejarawan Majapahit
Ilustrasi: Rekonsiliasi Abadi di Alam Gaib
Ada luka lama di tubuh Nusantara. Namanya Perang Bubat. Peristiwa berdarah di tahun 1357 M itu telah meninggalkan jejak duka yang mendalam, terutama di hati masyarakat Sunda. Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, disebut sebagai dalang di balik pembantaian rombongan Raja Sunda yang datang untuk meminang Hayam Wuruk dengan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi.
Sejak saat itu, turun-temurun, bisik-bisik kebencian terhadap "orang Jawa" kadang masih terdengar. Sebuah warisan emosi yang dirawat tanpa pernah dialami, sebuah dendam yang diwariskan tanpa pernah dimengerti duduk perkaranya.
Namun, benarkah para leluhur—baik dari pihak Sunda maupun Majapahit—menginginkan itu? Ataukah justru mereka menangis, menyaksikan anak cucu masih bergelut dengan bayang-bayang masa lalu yang telah mereka ikhlaskan di alam keabadian?
⚔️ Gajah Mada: Manusia yang Terikat Sumpah Kosmik
Sering kali Gajah Mada dituding sebagai biang keladi ambisi yang kejam. Tapi mari kita tengok lebih dalam. Gajah Mada adalah perwujudan Sumpah Palapa, sebuah ikrar yang bukan sekadar janji politik, melainkan sumpah kosmik.
"Ia tidak akan menikmati palapa (istirahat) sebelum Nusantara bersatu di bawah panji Majapahit."
Dalam kerangka spiritual Jawa kuno, seorang mahapatih yang telah mengucapkan sumpah di hadapan para dewa dan leluhur tidak lagi bertindak atas nama pribadi. Ia adalah instrumentasi takdir. Ketika rombongan Sunda datang dengan tata cara yang—menurut protokol istana Majapahit—dianggap sebagai "tunduk", bukan "setara", maka benturan visi tak terhindarkan. Bukan karena Gajah Mada benci orang Sunda, tapi karena ia terikat oleh dharma yang tak bisa ditawar.
Sabda Ibu dan Paralel dengan Para Pandawa
Ini serupa dengan kisah "Sabda Ibu" kepada Para Pandawa dalam tradisi pewayangan. Ketika Ibu Kunti berkata, "Bagikanlah kepadamu semua" (merujuk pada Dropadi), secara moral manusiawi, seorang suami mana pun tak rela berbagi istri. Namun secara kepatuhan pada dewata dan kodrat yang lebih tinggi, para Pandawa harus menjalankannya. Bukan karena mereka tak punya perasaan, tapi karena mereka tunduk pada perintah yang datang dari sumber spiritual yang tak terbantahkan.
Gajah Mada pun demikian. Ia mungkin meneteskan air mata dalam batinnya, tapi langkahnya harus terus maju. Sumpah adalah tali yang mengikat manusia pada takdirnya, meski harus membayar dengan harga yang mahal.
💧 Tangisan Leluhur di Alam Keabadian
Pernahkah kita membayangkan apa yang dirasakan oleh Prabu Linggabuana (Raja Sunda) dan Dyah Pitaloka di alam sana? Atau Gajah Mada sendiri setelah menyeberang?
Mereka yang telah menyatu dengan Sang Hyang Maha Esa tidak lagi membawa amarah. Mereka telah memahami skenario besar yang mungkin tak terlihat oleh kita yang masih terbelenggu ragu (nafsu) dan dendam.
Yang mereka lihat sekarang adalah:
- Anak cucu Sunda dan Jawa masih saling curiga.
- Candu kebencian diwariskan melalui dongeng tanpa konteks.
- Semangat persaudaraan yang terkikis oleh ego kedaerahan.
Para leluhur menangis. Bukan karena luka mereka tak sembuh, tapi karena anak keturunan mereka dengan bangga merawat luka yang sebenarnya telah mereka ikhlaskan ribuan hari yang lalu. Mereka telah berjabat tangan di alam cahaya, namun kita di bumi masih sibuk melempar batu.
🏹 Sejarah Besar Tanpa Konflik Adalah Dongeng
Kita harus berani berkata jujur: sejarah besar tanpa konflik adalah dongeng pengantar tidur.
Perang Bubat adalah bagian dari darah yang mengalir dalam tubuh Nusantara. Ia adalah salah satu episode pahit yang membentuk karakter bangsa ini. Bukan untuk diratapi terus-menerus, tapi untuk dipahami sebagai bagian dari proses panjang penyatuan energi Nusantara.
Majapahit bukanlah kerajaan malaikat. Begitu pula Sunda. Keduanya adalah kerajaan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Gajah Mada pun bukan dewa. Ia adalah ksatria yang terkadang harus mengambil keputusan yang menyakitkan demi apa yang ia yakini sebagai dharma.
Konflik ini mengajarkan kita bahwa persatuan Nusantara tidak datang dengan mudah. Ia ditempa dalam api sejarah, kadang dengan air mata, kadang dengan darah. Tapi justru dari situlah kita belajar bahwa Nusantara adalah takdir bersama yang harus dijaga, bukan dengan dendam, tapi dengan pemahaman.
🕊️ Menuju Rekonsiliasi Abadi: Meneruskan Api, Bukan Abu
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai generasi penerus?
- Bedakan Antara Sejarah dan Warisan Emosi — Pelajari Perang Bubat sebagai fakta sejarah, tapi jangan warisi dendamnya. Biarkan masa lalu menjadi guru, bukan penjara.
- Hormati Peran Kosmik Para Leluhur — Pahami bahwa tokoh seperti Gajah Mada atau Prabu Linggabuana adalah bagian dari roda takdir yang mungkin tak sepenuhnya bisa kita nilai dengan kacamata moral masa kini.
- Sambung Silaturahmi Lintas Budaya — Orang Sunda dan Jawa adalah saudara sebangsa, setanah air.
- Renungkan "Tangisan Leluhur" — Bayangkan para leluhur kedua pihak sedang duduk bersama di alam sana, tersenyum, lalu berkata, "Sudah, Nak. Kami sudah berdamai. Sekarang giliran kalian yang meneruskan perdamaian itu di dunia."
🔥 Kesimpulan: Api Kebangkitan, Bukan Api Kebencian
Perang Bubat biarlah menjadi catatan kaki dalam sejarah, bukan menjadi api kebencian yang terus dinyalakan. Mari kita nyalakan api kebangkitan, sebagaimana cita-cita Majapahit yang ingin menyatukan Nusantara.
Gajah Mada telah tiada. Dyah Pitaloka telah tiada. Yang tinggal adalah kita: anak cucu mereka yang harus melanjutkan cerita ini dengan jalan yang lebih terang.
Mereka yang telah berpulang telah bersalaman di keabadian.
Sekarang, tugas kitalah untuk bersalaman di dunia nyata.
🔗 Baca Juga:
- Membongkar Makna "Agama Budi" Eyang Semar: Jejak Teologi Keibuan Nusantara yang Terlupakan
- Bahaya Afirmasi Terhadap Pengingkaran Jatidiri: Menyelaraskan Nama dengan Energi Ruhani Sejati
- Gajah Mada - Mahapatih Legendaris Pemersatu Nusantara
- Tribhuwana Wijayatunggadewi: Ratu Majapahit ke-3
- Nusantara—Kisah Epik Gadjah Mada: Kebangkitan Sang Obor Majapahit
🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Spiritual, Sejarah, dan Peradaban.
🔍 #PerangBubat #GajahMada #DyahPitaloka #Rekonsiliasi #EyangAnantaPrabhavasta
© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Site. "Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar