Selasa, 24 Februari 2026

Candi Tikus: Petirtaan Mistis di Jantung Trowulan, Replika Gunung Mahameru Bawah Tanah

Oleh: Eyang Ananta Prabhavasta — Sejarawan Arkeologi Nusantara, Pengkaji Situs Majapahit
📅 24 Februari 2026 | 🏛️ Situs Arkeologi | 💧 Petirtaan | ⛰️ Trowulan
Menyongsong Kebangkitan Nusantara
Candi Tikus Trowulan
Candi Tikus — Petirtaan unik Majapahit yang justru berada di bawah permukaan tanah, berbeda dengan candi-candi pada umumnya
Pagar depan Candi Tikus
Pagar depan dan papan nama Candi Tikus — situs yang ditemukan secara tidak sengaja karena wabah tikus pada tahun 1914
"Di antara candi-candi Jawa Timur yang menjulang tinggi, Candi Tikus justru memilih turun ke bawah. Ia adalah petirtaan mistis yang menyimpan air kehidupan, replika Gunung Mahameru dalam sunyi."
🪶 TELUSUR MAJAPOST

Di kawasan Trowulan, Mojokerto, jantung bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, tersebar puluhan situs bersejarah. Mulai dari gapura, candi, hingga kolam kuno. Namun di antara semuanya, Candi Tikus memiliki tempat khusus. Bukan karena kemegahannya, tapi karena keunikannya yang kontras dengan candi-candi lain di Jawa Timur. Jika candi-candi pada umumnya menjulang tinggi ke langit, Candi Tikus justru berada di bawah permukaan tanah. Ia adalah petirtaan—tempat pemandian suci—yang menjadi saksi bisu kecanggihan teknologi dan kedalaman spiritual leluhur Majapahit.

🐭 1. DITEMUKAN SECARA "TIDAK SENGAJA" KARENA HAMA TIKUS

Nama "Candi Tikus" bukanlah nama asli dari zaman Majapahit. Ia adalah nama yang diberikan oleh masyarakat sekitar setelah penemuan kembali situs ini pada tahun 1914. Konon, saat itu daerah tersebut sedang dilanda wabah tikus yang meresahkan warga. Para petani mengejar tikus-tikus yang bersembunyi, dan ternyata hewan-hewan itu masuk ke dalam sebuah gundukan tanah yang tidak mencolok.

Saat gundukan itu digali, warga dikejutkan oleh penemuan bangunan bata merah yang megah di bawah permukaan tanah. Sebuah candi yang selama berabad-abad terkubur, akhirnya kembali muncul ke permukaan—semua berkat kejar-kejaran dengan tikus. Jadilah warga menyebutnya "Candi Tikus", sebuah nama yang sederhana namun menyimpan cerita unik di balik penemuannya.

💧 2. BUKAN TEMPAT IBADAH, TAPI "PETIRTAAN"

Secara struktural, Candi Tikus berbeda dengan candi-candi lain di Jawa Timur yang umumnya berfungsi sebagai tempat pemujaan atau makam raja. Candi ini adalah sebuah petirtaan—pemandian atau kolam suci. Bentuknya seperti kolam besar yang menjorok ke bawah sedalam 3,5 meter dari permukaan tanah asli.

Di dalamnya, terdapat saluran air dan pancuran (jaladwara) yang pada masa lalu mengalirkan air jernih dari sumber mata air. Air ini tidak hanya digunakan untuk membersihkan diri secara fisik, tapi juga untuk penyucian spiritual—sebuah ritual penting dalam tradisi Hindu-Buddha. Para bangsawan dan pendeta dipercaya melakukan tapa atau upacara pembersihan diri di tempat ini.

Nama Situs: Candi Tikus

Lokasi: Dukuh Jambu, Desa Temon, Trowulan, Mojokerto

Fungsi: Petirtaan (pemandian suci) dan pengatur air

Material: Batu bata merah khas Majapahit

Kedalaman: 3,5 meter di bawah permukaan tanah

Tahun Ditemukan: 1914 (karena wabah tikus)

⛰️ 3. MINIATUR GUNUNG MAHAMERU

Arsitektur Candi Tikus tidak sembarangan. Bangunan utama yang berdiri di tengah kolam melambangkan Gunung Mahameru, pusat alam semesta dalam mitologi Hindu-Buddha. Di sekelilingnya, terdapat menara-menara kecil (candi perwara) yang mengelilingi menara utama, persis seperti puncak-puncak gunung yang mengelilingi puncak tertinggi.

Jika diperhatikan dari atas, kompleks Candi Tikus membentuk pola mandala—diagram kosmologis yang menggambarkan alam semesta. Air yang mengalir dari pancuran-pancuran melambangkan air kehidupan (amerta) yang mengalir dari gunung suci. Di sinilah para bangsawan dan pendeta melakukan ritual penyucian, membayangkan diri mereka sedang berada di lereng gunung para dewa.

🌊 4. SISTEM IRIGASI KUNO YANG CANGGIH

Selain fungsi spiritual, para ahli menduga Candi Tikus juga memiliki fungsi yang lebih praktis: sebagai waduk penampung air atau pengatur debit air untuk persawahan di sekitar ibu kota Majapahit. Sistem saluran air yang ditemukan di situs ini menunjukkan kecanggihan teknik sipil dan hidrologi leluhur kita.

Air yang masuk ke kolam diatur sedemikian rupa sehingga tidak meluap di musim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Ini adalah bukti bahwa masyarakat Majapahit telah menguasai teknologi pengelolaan air yang kompleks—sebuah pengetahuan yang sangat penting untuk mendukung kehidupan di ibu kota dengan ribuan penduduk.

📅 5. MISTERI "TAHUN KELAHIRAN"

Candi Tikus tidak memiliki prasasti yang menyebutkan kapan tepatnya ia dibangun. Tidak ada angka tahun yang terpahat di batu batanya. Namun, para arkeolog dapat memperkirakan usianya dari beberapa petunjuk:

  • Material bata merah: Karakteristik bata merah Candi Tikus sangat mirip dengan bangunan-bangunan Majapahit lainnya yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 hingga ke-14.
  • Gaya arsitektur: Bentuk menara dan pola mandala-nya menunjukkan gaya yang berkembang pada masa keemasan Majapahit.
  • Konteks sejarah: Letaknya di Trowulan, pusat pemerintahan Majapahit, menguatkan dugaan bahwa candi ini dibangun pada masa kejayaan kerajaan tersebut.

Meskipun tidak diketahui pasti tahun pembangunannya, para ahli sepakat bahwa Candi Tikus adalah peninggalan asli masa Majapahit, saksi bisu dari peradaban besar yang pernah berjaya di tanah Jawa.

🪞 6. KEINDAHAN SAAT MUSIM HUJAN

Candi Tikus memiliki pesona tersendiri yang bergantung pada musim. Saat musim kemarau, kolamnya mungkin kering dan candi ini tampak seperti bangunan biasa. Namun saat musim hujan tiba, kolamnya terisi air, menciptakan efek cermin yang estetik.

Bangunan candi yang memantul di permukaan air menciptakan ilusi optik yang memukau—seolah-olah ada dua candi: satu di dunia nyata, satu lagi di dunia bawah. Para fotografer dan pecinta sejarah sering datang saat musim hujan untuk mengabadikan keindahan ini. Air tidak hanya mengembalikan fungsi asli candi sebagai petirtaan, tapi juga menambah nilai estetikanya.

🔍 TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah menelusuri jejak Candi Tikus, renungkanlah:

  • ❓ Mengapa para leluhur memilih membangun petirtaan di bawah tanah, bukan di atas seperti candi-candi lainnya?
  • ❓ Apa makna spiritual dari air yang mengalir di pancuran-pancuran Candi Tikus?
  • ❓ Bagaimana kecanggihan teknologi pengelolaan air Majapahit bisa relevan untuk mengatasi krisis air di masa kini?
"Air yang mengalir di Candi Tikus bukan sekadar air biasa. Ia adalah amerta—air kehidupan—yang menghubungkan manusia dengan alam dewata. Dan ketika kolamnya tenang, ia menjadi cermin bagi siapa pun yang mau merenung."

🏮 KESIMPULAN

Candi Tikus adalah bukti bahwa peradaban Majapahit tidak hanya megah di atas permukaan, tapi juga dalam di kedalaman. Ia adalah petirtaan yang menyatukan fungsi spiritual dan teknologi: tempat para bangsawan menyucikan diri, sekaligus waduk yang mengairi sawah-sawah di sekitarnya.

Ditemukan secara tidak sengaja karena kejar-kejaran dengan tikus, ia kini menjadi salah satu situs paling ikonik di Trowulan. Namanya mungkin sederhana—Candi Tikus—namun di balik nama itu tersembunyi kecanggihan arsitektur, kedalaman spiritual, dan keindahan estetika yang tak ternilai.

Saat air menggenangi kolamnya di musim hujan, Candi Tikus berbicara dalam diam: bahwa kejayaan masa lalu bisa terpantul kembali, jika kita mau melihatnya dengan jernih.

"Candi Tikus — dari bawah tanah, untuk keabadian peradaban."
📘 Facebook 🐦 Twitter 📱 WhatsApp

🔗 Baca Juga:

📚 Berdasarkan penelusuran sejarah dan refleksi pribadi Eyang Ananta Prabhavasta atas berbagai sumber pustaka, penelitian arkeologi, dan kunjungan langsung ke situs Candi Tikus, Trowulan.

🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Situs, Teknologi, dan Peradaban.

📌 Playlist Tutur Tinular
🔍 #CandiTikus #Trowulan #Petirtaan #Majapahit #ArsitekturKuno #EyangAnantaPrabhavasta

© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Story. Pusaka Obor Suryatikta: Menerangi Jejak Situs, Menjaga Marwah Bangsa.

"Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."

⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Gambar dokumentasi dari situs Candi Tikus, Trowulan.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Smart Recommendations

Database Artikel

    paling banyak dibaca