Legenda Dyah Joning: Asal Usul Jombang Dari Bunga Ijo lan Kuning
MAJAPOST.COM – Di balik nama Jombang yang kita kenal hari ini, tersimpan kisah tentang seorang putri, sebuah bunga, dan tragedi yang mengubah segalanya. Legenda ini berakar pada masa kejayaan Medang, ketika pusat pemerintahan berada di tanah Jawa Timur.
JO-NING: Ijo lan Kuning
Pernahkah kamu memperhatikan bunga liar berwarna kuning cerah yang dulu begitu mudah ditemukan di pinggir jalan atau ladang di Jombang? Daunnya hijau bergerigi, bunganya kuning terang, dan jika ditiup, bulu-bulu halusnya beterbangan ditiup angin. Itulah bunga joning—bunga lokal yang kini langka dan sulit ditemukan. Karena bentuknya yang mirip, orang modern sering menyebutnya dandelion. Namun secara ilmiah, bunga ini bukan Taraxacum officinale yang berasal dari Eropa.
Joning, dalam bahasa Jawa, adalah singkatan dari ijo lan kuning—hijau dan kuning. Warnanya itulah yang membuat bunga ini begitu mudah dikenali: hijau daunnya, kuning bunganya. Dulu, sampai tahun 80-an, bunga ini tumbuh melimpah di Jombang. Kini masih ada, tapi tak sebanyak dulu—bahkan mungkin sudah sangat sulit dijumpai.
Bunga inilah yang kemudian menjadi nama seorang putri. Dan kelak, nama itulah yang menjadi asal-usul Kabupaten Jombang.
Putri dari Tanah Medang
Pada akhir abad ke-10, Kerajaan Medang di Jawa Timur diperintah oleh Raja Dharmawangsa Teguh, raja dari Wangsa Isyana. Di lingkungan keraton, lahirlah seorang putri yang dalam legenda dikenal sebagai Dyah Joning.
Sejak kecil, Dyah Joning tumbuh di tengah kedaton Medang. Kedua orang tuanya memiliki kecintaan khusus pada sekuntum bunga berwarna kuning yang tumbuh subur di sekitar kediaman kerajaan. Bunga itulah yang mereka sebut joning—ijo lan kuning.
Karena kecintaan orang tuanya pada bunga tersebut, sang putri diberi nama Dyah Joning. Dalam tradisi setempat, ia juga disebut Galuh Sekar atau "bunga/kembang Watugaluh", merujuk pada wilayah tempat ia dibesarkan. Nama itu menjadi simbol kecantikan sang putri yang diibaratkan secantik bunga yang mereka cintai.
Watugaluh dan Megaluh: Pusat Mataram Kuno di Jombang
Pusat Kerajaan Medang di Jawa Timur pernah berada di dua lokasi yang sama-sama di wilayah Jombang. Prasasti Anjukladang (937 M) dan Prasasti Paradah (943 M) mencatat kedaton Medang berada di Watugaluh, yang kini menjadi Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, di tepi Sungai Brantas. Sementara itu, Megaluh, yang kini menjadi kecamatan sendiri di Jombang, juga diyakini sebagai bagian dari kawasan pusat pemerintahan Mataram Kuno di Jawa Timur.
Pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh, Prasasti Wwahan (995 M) menegaskan bahwa kedaton kerajaan masih berada di Watugaluh. Dengan demikian, selama lebih dari setengah abad, wilayah yang kini dikenal sebagai Jombang—baik Watugaluh maupun Megaluh—menjadi pusat pemerintahan dan peradaban Mataram Kuno.
Di sinilah, di tanah Medang lama inilah Dyah Joning atau Galuh Sekar dibesarkan. Nama "Galuh" yang melekat pada dirinya merujuk pada tanah kelahirannya yang penuh dengan bunga dan keindahan.
Pernikahan yang Berubah Menjadi Tragedi
Airlangga, putra Udayana Warmadewa dari Bali, datang ke Jawa dalam hubungan yang dekat dengan keluarga Medang. Ia kemudian dinikahkan dengan putri Dharmawangsa Teguh. Prasasti Pucangan menjadi sumber utama mengenai pernikahan yang berlangsung sebelum serangan Wurawari.
Dalam legenda ini, putri Dharmawangsa tersebut dikenang sebagai Dyah Joning—Galuh Sekar. Dan ketika menuju pesta pernikahannya, sang putri membawa sesuatu dari tanah kelahirannya: bunga joning. Bunga-bunga itu digunakan untuk menghiasi kedaton dan tempat pesta.
Tragedi Mahapralaya di Wwatan, Magetan
Pernikahan Dyah Joning dengan Airlangga berlangsung di Wwatan (kini sekitar Maospati, Magetan). Prasasti Pucangan mencatat peristiwa ini dengan jelas—bahwa pesta pernikahan berubah menjadi tragedi besar ketika Wurawari dari Lwaram (kini Ngloram, Cepu, Blora) menyerbu keraton.
Dharmawangsa Teguh gugur bersama seluruh keluarganya. Dyah Joning juga gugur dalam mahapralaya atau kehancuran besar tersebut. Hanya Airlangga yang berhasil menyelamatkan diri bersama Narottama.
Tragedi Jobang: Ketika Jo-Ning Berubah Menjadi Jo-Bang
Bunga-bunga joning yang sebelumnya menghiasi pesta pernikahan kini berserakan di tengah kehancuran keraton. Bunga kuning itu terkena darah. Bukan hanya darah Dyah Joning, tetapi darah keluarga kerajaan, para bangsawan, dan orang-orang Medang yang gugur.
Jo—ijo lan kuning—kini berubah. Kuningnya bercampur merah darah. Menjadi abang.
Airlangga Mengenang: Jobang, Nama untuk Tiga Kenangan
Setelah berhasil menyelamatkan diri dan membangun kembali kekuasaannya, Airlangga tidak pernah melupakan apa yang terjadi. Ia kehilangan istri tercinta, Dyah Joning. Ia kehilangan keluarga kerajaan dan para bangsawan Medang. Dan ia kehilangan tanah tempat istrinya dibesarkan.
Untuk mengenang semuanya—terutama tanah kelahiran Dyah Joning yang rakyatnya begitu mencintai sang putri—Airlangga memberi nama Jobang pada wilayah itu. Nama tersebut merangkum tiga kenangan sekaligus:
- Jon — mengingatkan pada Dyah Joning, istri yang gugur dalam tragedi.
- Jo — dari joning, bunga ijo lan kuning yang menjadi nama sang putri.
- Bang — dari abang, merah darah yang membasahi bunga-bunga itu dan menandai tragedi mahapralaya.
Jobang bukan sekadar nama tempat. Ia adalah nama kenangan yang lahir dari duka seorang suami yang kehilangan segalanya—istri, keluarga, dan tanah kelahiran istrinya—dalam satu malam yang berdarah.
Jobang Menjadi Jombang
Dalam perjalanan waktu, pengucapan Jobang berkembang menjadi Jombang. Nama itu kemudian melekat sebagai identitas kawasan yang kini kita kenal sebagai Kabupaten Jombang.
Jombang, dalam legenda ini, bukan hanya nama sebuah daerah. Ia adalah nama yang lahir dari bunga dan darah. Nama yang diberikan oleh seorang raja untuk mengenang istri tercinta, tragedi besar, dan tanah kelahiran yang tak pernah kembali.
Berdasarkan legenda dan jejak sejarah yang terangkai—dari bunga joning, nama Dyah Joning, pernikahannya dengan Airlangga, hingga tragedi mahapralaya yang melahirkan nama Jobang—maka dapat dikatakan bahwa nama Jombang sudah ada sejak tahun 1019 Masehi, yang juga merupakan tahun penobatan Airlangga sebagai raja. Dengan demikian, 1019 Masehi dapat dianggap sebagai tahun lahirnya Jombang, ketika sejarah dan legenda bertemu dalam satu nama yang abadi.
Penulis: Eyang Ananta Prabhavasta
Pesan Redaksi: Legenda Dyah Joning adalah warisan budaya yang perlu terus dilestarikan. Nama Jombang bukan sekadar penanda wilayah, tetapi menyimpan kisah cinta, tragedi, dan pengabdian seorang raja. Mari kita jaga dan kenang sejarah ini sebagai bagian dari identitas kita.
Baca Juga
Sumber: JombangAsli.com — Media Asli Jombang Mencerahkan
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar