Viral 'Tembok Ratapan Solo': Satire Digital di Kediaman Jokowi yang Jadi Sorotan Dunia Maya
Oleh Redaksi Majapost - Senin, 16 Februari 2026
MAJAPOST.COM – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan munculnya fenomena unik yang melabeli kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Sumber, Solo, sebagai "Tembok Ratapan Solo". Istilah satire ini mendadak viral setelah titik lokasi rumah tersebut di Google Maps diubah oleh oknum netizen, memicu gelombang diskusi hangat di berbagai platform.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan nama di peta digital. Sejumlah konten video memperlihatkan warga hingga anak muda yang melakukan aksi simbolis di depan pagar rumah tersebut, mulai dari sekadar berswafoto hingga seolah-olah menyampaikan keluh kesah atau 'ratapan' terkait kondisi sosial ekonomi saat ini.
Baca Juga: Gibran Tegaskan Koruptor Harus Dimiskinkan Melalui RUU Perampasan Aset
Antara Satire dan Kerinduan Masyarakat
Nama "Tembok Ratapan" sendiri merujuk pada situs suci di Yerusalem tempat orang-orang berdoa dan menyampaikan permohonan. Dalam konteks Solo, istilah ini digunakan sebagai bentuk satire digital. Banyak warga yang sengaja datang jauh-jauh hanya untuk menitipkan surat bantuan, proposal, hingga sekadar mengadu nasib di depan gerbang Jalan Kutai Utara No. 1 tersebut.
Meski terkesan menyindir, fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana sosok Jokowi masih menjadi magnet bagi masyarakat yang merindukan kebijakan-kebijakannya atau sekadar ingin menyampaikan aspirasi secara langsung meskipun beliau sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden aktif.
Baca Juga: Geger! Fajar Sadboy Diludahi Saat Podcast, Simak Kronologinya
Tanggapan Santai dari Pihak Kediaman
Menariknya, viralnya sebutan ini tidak ditanggapi dengan ketegangan. Pihak pengamanan maupun ajudan terpantau tetap mengizinkan warga untuk melintas atau mengambil foto di depan tembok ikonik bertuliskan alamat rumah tersebut, selama tidak mengganggu ketertiban umum.
Bagi para pegiat media sosial, lokasi ini kini menjadi destinasi wajib untuk konten bertema sosial-politik. "Tembok Ratapan Solo" menjadi bukti nyata bagaimana kritik dan ekspresi masyarakat di era digital dapat bertransformasi menjadi fenomena fisik yang menarik perhatian nasional.
Baca Berita Viral Lainnya:
Sejauh ini, pihak Google Maps dikabarkan telah mulai menertibkan perubahan nama-nama lokasi yang dianggap tidak resmi, namun jejak digital "Tembok Ratapan Solo" tampaknya akan tetap membekas dalam memori netizen Indonesia tahun ini.
Bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena satire ini? Apakah hal ini wajar dalam demokrasi digital?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar