Spiritsual dan Keberlimpalsu: Kritik Atas Spiritualitas yang Dijual di Era "Jalur Langit"
Oleh: Eyang Ananta Prabhavasta — Spiritualis, Pengkaji Fenomena Spiritual Modern
Ilustrasi: Spiritsual, Afrmasu, Moneyfestasu — bahasa baru untuk kerakusan yang berkedok spiritual
Sekarang banyak konten "Jalur Langit" yang menjanjikan kekayaan instan lewat afirmasi dan manifestasi. Sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Di balik kata-kata manis, ayat-ayat yang dipilih-pilih, dan cerita "vibrasi positif", seringkali tersembunyi ego yang haus akan kepuasan materi tanpa batas. Kita sedang menyaksikan lahirnya agama baru: agama materialisme yang meminjam jubah spiritual.
📚 1. ISTILAH-ISTILAH BARU YANG MENYESATKAN
Lihatlah istilah-istilah yang sedang ramai di media sosial:
SPIRITSUAL • AFRMASU • MONEYFESTASU • FIBRASU • MAGNET REJECTKI • KEBERLIMPALSU
Ini bukan sekadar salah ketik atau bercanda biasa. Ini gambaran nyata bagaimana spiritualitas dipalsukan untuk mengejar hasil materi. Perhatikan akhiran "su" yang sengaja dipilih—terdengar sakral, mirip bahasa Sanskerta, mirip doa, tapi isinya kosong. Tuhan tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan hanya sebagai "asisten pribadi" untuk melipatgandakan uang, melancarkan bisnis, dan mencari jodoh kaya.
⚖️ 2. ANTARA KEBUTUHAN HIDUP DAN KERAKUSAN TANPA BATAS
Manusia punya naluri bertahan hidup (survival). Itu naluri yang sederhana dan terbatas—seperti yang dicontohkan para Nabi dan Ahlul Bait yang hidup zuhud. Cukup makan, cukup sandang, cukup papan. Kebutuhan dasar kita, kalau jujur, hanya sedikit.
Tapi cerita Keberlimpalsu ini mendorong manusia mencari kepuasan yang tidak terbatas. Bukan "cukup" lagi, tapi "lebih". Bukan "berkah" lagi, tapi "maksimal". Yang menyedihkan, eksploitasi alam besar-besaran, jurang pemisah antara kaya dan miskin, itu semua akibat langsung dari kerakusan yang dibungkus label "berkah" dan "limpahan rezeki".
⚠️ 3. ISTIDRAJ YANG DISALAHARTIKAN MENJADI KAROMAH
Setiap hari medsos dibanjiri konten pamer harta—mobil baru, rumah mewah, bisnis berkembang—semua dibingkai dengan cerita "Berkah Jalur Langit", "Manifestasi Sukses", atau "Rezeki Dadakan". Pertanyaannya: apakah itu benar karomah (kemuliaan) atau justru Istidraj?
ISTIDRAJ
"Ketika seseorang terus-menerus bergelimang dosa, tapi rezekinya mengalir deras tanpa henti—itu bukan kemuliaan, tapi penundaan azab."
Dalam skenario mutlak Tuhan, kelimpahan materi bisa jadi adalah cobaan yang disebut Istidraj. Tuhan memberi dunia agar orang itu berhenti merintih dan mengeluh dalam doa dan jauh dari kedekatan sejati dengan Tuhannya. Dia sibuk mengurus harta, lupa pada Pemilik Harta.
Jika seseorang memilih kelimpahan materi dan menolak cobaan, itu tanda batas kemampuannya. Tuhan memberi dunia agar dia berhenti merintih dan menjauh dari kedekatan sejati dengan Tuhannya.
💎 4. NILAI KEDEKATAN: COBAAN ATAU KENIKMATAN?
Kebenaran pahit yang jarang diceritakan para influencer spiritual adalah: kedekatan dengan Tuhan itu seringkali mahal—berupa cobaan kesehatan, kesempitan rezeki, atau cobaan hidup yang tak terduga.
Coba bandingkan:
- Si A: Ibadahnya biasa saja, tapi harta melimpah, bisnis lancar, hidup enak. Dia sibuk cuap-cuap soal vibrasi kekayaan di depan kamera, jualan kelas manifestasi yang mahal.
- Si B: Ahli ibadah, saleh, tapi hidup pas-pasan, sakit-sakitan, cobaan datang silih berganti. Dia tetap rida dan bersyukur.
Siapa yang lebih tinggi derajatnya di sisi Tuhan? Dalam logika spiritual sejati, Si B lah yang punya nilai spiritual lebih tinggi. Sabar dalam cobaan itu tanda cinta, bukan tanda dijauhi Tuhan. Orang yang tetap rida saat sakit fisik, yang tetap syukur saat kekurangan, dia itu ahli makrifat—bukan sekadar salesman keberlimpalsu.
🔍 TELUSUR LEBIH DALAM
Setelah merenungkan fenomena ini, coba pikirkan:
- ❓ Apakah selama ini aku berdoa untuk Tuhan atau hanya menjadikan Tuhan sebagai alat untuk kepentingan duniaku?
- ❓ Apakah aku bisa membedakan antara karomah dan istidraj dalam hidupku sendiri?
- ❓ Yang lebih aku cari: ketenteraman hati atau kelimpahan harta?
🏮 KESIMPULAN: KEMBALI KE FITRAH
Fenomena Spiritsual dan Keberlimpalsu ini cerminan zaman: manusia ingin surga tanpa ibadah, ingin kaya tanpa bekerja, ingin dekat Tuhan tapi tak mau cobaan. Kita telah membuat agama versi kita sendiri—agama yang selalu memberi, tak pernah meminta; agama yang mengabulkan, tak pernah menguji.
Padahal, spiritualitas sejati justru terbentuk dalam ruang kekosongan, dalam kesabaran, dalam keikhlasan menerima takdir—baik senang maupun susah. Bukan dalam sorak-sorai "vibrasi positif" yang menolak kenyataan pahit kehidupan.
Mari kita bedakan: iman yang menguji, atau iman yang memanjakan? Karena keduanya sama-sama disebut "iman", tapi ujungnya berbeda: satu menuju makrifat, satu menuju kehampaan.
🔗 Baca Juga:
- Bahaya Afirmasi Terhadap Pengingkaran Jatidiri
- Aji Pancasona: Ketika Jasad Menolak Lepas
- Membongkar Makna "Agama Budi" Eyang Semar
🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Spiritual, Kritik Sosial, dan Peradaban.
📌 Playlist Tutur Tinular
🔍 #Spiritsual #Keberlimpalsu #KritikSpiritual #Istidraj #EyangAnantaPrabhavasta
© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Story. Pusaka Obor Suryatikta: Menerangi Jejak Spiritual, Menjaga Marwah Bangsa.
"Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."
⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Artikel ini merupakan kritik sosial-spiritual terhadap fenomena spiritualitas yang diperjualbelikan dan tidak bermaksud menghakimi individu tertentu.
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar