Aji Pancasona: Ketika Jasad Menolak Lepas, Ruh Terjebak di Antara Dua Alam
Oleh: Eyang Ananta Prabhavasta — Spiritualis, Sejarawan Majapahit
Ilustrasi: Kembang Bayang—Ruh yang Terjebak di Antara Dua Alam
Dalam khazanah spiritual Jawa, Aji Pancasona dikenal sebagai ilmu keabadian. Konon, siapa pun yang memilikinya, jika tewas dalam peperangan, ia akan hidup kembali begitu jasadnya menyentuh tanah (sona = tanah). Kyai Pancasona, tokoh dalam kisah Babad Tanah Jawi, bahkan disebut mustahil mati karena ilmu ini.
Namun, di balik mitos itu, tersembunyi pertanyaan besar: Apakah hidup abadi di dunia benar-benar anugerah? Atau justru kutukan?
📜 APA SEBENARNYA AJI PANCASONA?
Dalam tradisi spiritual Nusantara, Aji Pancasona bukan sekadar ilmu kebal atau panjang umur. Ia adalah paket lengkap yang mencakup tiga hal:
- Pengasihan — pemiliknya memiliki daya tarik luar biasa, disukai banyak orang, terutama wanita. Tak heran jika tokoh pengamal Pancasona digambarkan bisa menikah berkali-kali.
- Pesugihan — kekayaan mengalir deras. Rezeki seolah tak pernah putus, tapi selalu ada harga yang harus dibayar.
- Umur Panjang — usia berlarut-larut, melewati anak, cucu, bahkan buyut. Jasad tetap hidup meski ruh setengah meronta.
Tapi inilah ironinya: semua kehebatan itu hanya berlaku di dunia. Ketika ajal tiba, justru di situlah penderitaan sejati dimulai.
🌑 AKHIR HAYAT: MENJADI KEMBANG BAYANG
Dalam istilah spiritual Jawa, ada sebutan “kembang bayang”—ruh yang gentayangan, tak bisa meninggalkan dunia, tapi juga tak sepenuhnya hidup. Ia seperti bunga yang hanya tinggal bayangannya saja.
Pemilik Aji Pancasona, di penghujung hidupnya, akan mengalami nasib ini. Ruhnya tak bisa naik ke alam cahaya. Ada sesuatu yang menahannya. Mungkin ikatan dengan wanita-wanita yang pernah dicintai. Mungkin harta yang tak rela ditinggal. Mungkin janji-janji duniawi yang belum terpenuhi.
Ia duduk sendiri di kuburan—atau di tempat-tempat sepi—menatap langit yang bercahaya, menyaksikan ruh-ruh lain melayang naik dengan damai. Tangannya terulur, tapi tak mampu meraih. Cahaya itu ada di depan mata, namun terhalang selubung tak kasat mata.
Bayangkan betapa pedihnya: Menyaksikan pintu pulang terbuka lebar, tapi kaki tak mampu melangkah.
💔 PANJANG UMUR YANG MENJADI KUTUKAN
Di era modern, kita mungkin tak lagi mencari Aji Pancasona secara harfiah. Tapi bukankah kita sering menyaksikan fenomena serupa?
Orang tua yang sakit bertahun-tahun, bolak-balik sakarat, tapi tak kunjung berpulang. Jasadnya masih di sini, tapi ruhnya seperti setengah jalan. Anak cucu bergantian merawat, kehabisan tenaga, kehabisan biaya, kehabisan air mata.
Apakah ini bentuk modern dari Aji Pancasona? Sebuah keabadian yang tak lagi diidamkan, tapi justru menjadi beban—baik bagi yang memiliki jasad maupun yang merawat.
Dalam pandangan spiritual Jawa, ada beberapa sebab mengapa ruh "terjebak" dalam jasad yang sekarat:
- Keinginan kuat yang belum terpenuhi — misalnya ingin melihat anak tertentu sukses, atau ingin menyaksikan kelahiran cucu.
- Ikatan batin yang berlebihan — rasa sayang pada anak-cucu yang membuat ruh enggan meninggalkan dunia.
- Dosa atau janji yang belum ditunaikan — sehingga ruh "digantung" di alam barzakh versi dunia.
- Kesalahan spiritual semasa hidup — seperti memelihara ilmu pengasihan atau pesugihan yang mengikat ruh pada jasad dan harta.
🌿 PESAN LELUHUR: HIDUPLAH SEPERTI BUNGA, BUKAN BAYANG
Leluhur Nusantara mengajarkan keseimbangan. Dalam Serat Wedhatama, kita diajak untuk "ngeli ning ora keli"—mengalir tapi tidak hanyut. Termasuk dalam soal hidup, mati, dan apa yang kita kejar di dunia.
Ada beberapa ajaran yang bisa kita renungkan:
- Jangan Terlalu Cinta Dunia — Karena dunia hanya persinggahan. Cinta berlebihan pada harta, tahta, atau wanita bisa menjadi rantai yang mengikat ruh saat waktunya pulang.
- Perbanyak Jejak Baik — Hidup abadi yang sejati bukan tentang jasad yang tak mati, tapi tentang nama yang dikenang karena kebaikan, doa anak cucu yang terus mengalir, dan ilmu yang bermanfaat.
- Ikhlas Melepas — Jika ada orang tua yang sakit panjang, doakan bukan hanya kesembuhan, tapi juga keikhlasan untuk pergi jika itu yang terbaik. Kadang, ruh mereka menunggu "izin" dari yang ditinggal.
- Jangan Mengikat dengan Tangisan — Tangisan berlebihan justru bisa membuat ruh yang baru berpulang menengok ke belakang dan terhambat perjalanannya.
🔮 RENUNGAN: APA ITU HIDUP ABADI YANG SEJATI?
Kisah Kyai Pancasona mengajarkan kita bahwa keabadian duniawi adalah fatamorgana. Ia hanya memberikan ilusi kebahagiaan, tapi berujung pada kesepian abadi.
Seperti kata pepatah Jawa:
"Urip iku urup."
(Hidup itu menyala—memberi penerangan bagi sesama.)
Jika kita hanya hidup panjang dalam jasad yang tak bisa memberi, terbaring tanpa bisa bicara, tersenyum, atau memeluk—apakah itu disebut hidup? Atau justru itu mati yang tertunda?
Maka, jangan memuja panjang umur dengan segala cara. Panjang umur yang berkah adalah ketika setiap detiknya bisa diisi dengan budi. Dan ketika waktunya tiba, ruh melompat riang menuju cahaya, tanpa beban menahan jasad yang sudah usang.
🌌 PENUTUP: JANGAN JADI KEMBANG BAYANG
Kita semua pasti mati. Tapi ada dua cara mati:
- Mati biasa — jasad dikubur, ruh melayang menuju cahaya, diantar doa anak cucu.
- Mati sebagai kembang bayang — jasad mungkin terkubur, tapi ruh masih gentayangan, menatap cahaya dari jauh, tanpa bisa meraih, sendirian di antara dua alam.
Pilihan ada di tangan kita. Apa yang kita kejar hari ini? Harta yang mengikat? Wanita yang melenakan? Popularitas yang memabukkan? Atau justru kita menabur bekal untuk perjalanan panjang setelah mati?
Kyai Pancasona duduk sendiri di kuburan, menyaksikan cahaya yang tak bisa ia raih.
Jangan biarkan itu terjadi padamu.
🔗 Baca Juga:
- Membongkar Makna "Agama Budi" Eyang Semar: Jejak Teologi Keibuan Nusantara yang Terlupakan
- Bahaya Afirmasi Terhadap Pengingkaran Jatidiri: Menyelaraskan Nama dengan Energi Ruhani Sejati
- Perang Bubat: Tangisan Leluhur di Antara Dendam Anak Cucu
🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Spiritual, Sejarah, dan Peradaban.
🔍 #AjiPancasona #KembangBayang #SpiritualitasJawa #Renungan #EyangAnantaPrabhavasta
© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Site. "Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar