Dyah Wiyat: Intan Kemilau dari Daha, Adinda Cantik Penjaga Tradisi Majapahit
Dalam gemerlap sejarah Majapahit, nama-nama seperti Tribhuwana Tunggadewi dan Gayatri Rajapatni sering disebut sebagai perempuan-perempuan hebat di balik takhta. Namun ada satu nama yang tak kalah penting, seorang putri bungsu dengan kecantikan yang disebut-sebut dalam literatur dan ketegasan yang disegani: Dyah Wiyat, atau yang bergelar Rajadewi Maharajasa Bhre Daha. Ia adalah intan kemilau dari Daha, adinda cantik yang menjadi penjaga tradisi dan pilar stabilitas Majapahit.
👑 1. PUTRI BUNGSU SANG PENDIRI, PERMATA KELUARGA RAJA
Dyah Wiyat adalah putri kedua dari pendiri Majapahit, Raden Wijaya, dari permaisuri tercintanya, Gayatri Rajapatni. Ia adalah adinda kandung dari Ratu Tribhuwana Tunggadewi, dan bibi dari Raja Hayam Wuruk. Sebagai putri bungsu, ia tumbuh dalam limpahan kasih sayang, namun juga ditempa oleh kerasnya kehidupan istana yang penuh intrik.
Sejak muda, kecantikannya sudah menjadi buah bibir. Dalam literatur sejarah, ia digambarkan sebagai sosok yang memiliki paras jelita dengan pancaran kebijaksanaan di matanya. Namun kecantikannya bukan sekadar perhiasan—ia juga cerdas, tegas, dan memiliki wawasan luas tentang pemerintahan.
Nama: Dyah Wiyat (Rajadewi Maharajasa Bhre Daha)
Asal-usul: Putri bungsu Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni
Gelar: Bhre Daha (Penguasa wilayah Daha/Kediri)
Pasangan: Kudamerta (Bhre Wengker)
Peran: Anggota Saptaprabhu, penasihat Tribhuwana dan Hayam Wuruk
Dharmakan di: Candi Adilangu
💔 2. TRAGEDI CINTA DAN PENYEKAPAN RAJA
Masa muda Dyah Wiyat diwarnai dengan kisah yang cukup menyedihkan. Menurut kitab Pararaton, ia dan kakaknya, Tribhuwana Tunggadewi, dilarang menikah oleh saudara tirinya, Raja Jayanegara. Alasannya? Jayanegara ingin menikahi mereka sendiri agar takhta tetap berada di tangannya—meskipun mereka bersaudara tiri.
Bayangkan: dua putri cantik jelita, yang seharusnya menikah dengan pangeran pilihan hati, justru menjadi tahanan politik di istananya sendiri. Mereka tidak bebas memilih jodoh, tidak bebas menentukan nasib. Ini adalah tragedi yang menggores hati Dyah Wiyat, namun juga membentuk ketegarannya di kemudian hari.
Mereka baru bisa menikah setelah kematian Jayanegara pada tahun 1328, dalam peristiwa pembunuhan oleh tabib istana Ratanca. Setelah terbebas dari belenggu, Dyah Wiyat akhirnya menikah dengan Kudamerta (juga dikenal sebagai Bhre Wengker atau Raden Cakradhara), seorang ksatria tampan yang banyak membantu dalam urusan militer dan pembangunan wilayah.
🤝 3. PERNIKAHAN POLITIK YANG STRATEGIS
Pernikahan Dyah Wiyat dengan Kudamerta bukan sekadar kisah cinta, tapi juga langkah politik yang sangat strategis. Kudamerta adalah penguasa Wengker, wilayah yang juga berpengaruh. Pernikahan ini menyatukan dua faksi penting di Majapahit: faksi Daha (Kediri) yang diwakili Dyah Wiyat, dan faksi Wengker yang diwakili Kudamerta.
Dengan kecantikan dan kecerdasannya, Dyah Wiyat berhasil menjadi jembatan pemersatu antara wilayah-wilayah yang sebelumnya mungkin bersaing. Ia adalah simbol bahwa keindahan bisa menjadi alat diplomasi, dan diplomasi bisa melahirkan stabilitas.
👸 4. MENJADI "PILAR" PEMERINTAHAN TRIBUWANA
Ketika kakaknya, Tribhuwana Tunggadewi, naik takhta (1328–1350), Dyah Wiyat berdiri tepat di sampingnya. Ia menjadi bagian dari Saptaprabhu (Dewan Pertimbangan Agung yang terdiri dari tujuh keluarga inti raja). Di dewan inilah keputusan-keputusan penting kerajaan dimusyawarahkan.
Selama masa ini, ia ikut menyaksikan pengucapan Sumpah Palapa oleh Gajah Mada. Konon, Dyah Wiyat adalah salah satu tokoh yang mendukung penuh visi penyatuan Nusantara tersebut. Matanya yang indah menatap masa depan, melihat Nusantara yang bersatu di bawah panji Majapahit.
🌟 5. MASA KEEMASAN HAYAM WURUK: PENASEHAT BIJAK DARI DAHA
Setelah Tribhuwana turun takhta, putra mahkota Hayam Wuruk (keponakan Dyah Wiyat) naik menjadi raja. Di masa inilah posisi Dyah Wiyat mencapai puncak kedewasaan politiknya. Ia tetap menjabat sebagai Rajadewi Maharajasa Bhre Daha, penguasa wilayah Kediri yang bergengsi.
Dalam kitab Nagarakretagama, diceritakan betapa Hayam Wuruk sangat menghormati bibinya yang cantik dan bijaksana ini. Sang raja muda sering mengunjungi Daha untuk berdiskusi dan meminta nasihat kepada Dyah Wiyat. Ia dianggap sebagai simbol kebijaksanaan lama yang membimbing raja muda mencapai masa kejayaan.
Di usia senjanya, Dyah Wiyat tetap memancarkan pesona. Kecantikannya mungkin mulai berkurang dimakan usia, tapi kewibawaan dan kebijaksanaannya semakin bersinar. Ia menjadi teladan bagi para putri istana tentang bagaimana seorang perempuan bisa tetap berpengaruh tanpa harus merebut takhta.
💫 6. KECANTIKAN YANG ABADI DALAM SEJARAH
Apa yang membuat Dyah Wiyat begitu istimewa sehingga namanya abadi dalam sejarah?
- Kecantikan yang melegenda: Dalam literatur, ia digambarkan memiliki paras yang memikat, namun tidak pernah menggunakan kecantikannya untuk tujuan yang buruk.
- Ketegasan dalam memimpin: Sebagai Bhre Daha, ia memimpin wilayah Kediri yang dikenal "keras" dengan tangan tegas namun adil.
- Kesetiaan pada keluarga: Ia selalu mendukung kakaknya Tribhuwana dan keponakannya Hayam Wuruk, tanpa pernah berniat merebut kekuasaan.
- Kebijaksanaan yang diakui: Hayam Wuruk sendiri, raja terbesar Majapahit, mengakui kebijaksanaannya dan sering meminta nasihat.
INTAN KEMILAU DARI DAHA: Seperti intan yang semakin digosok semakin berkilau, Dyah Wiyat ditempa oleh tragedi, dibentuk oleh politik, dan akhirnya bersinar sebagai permata paling indah di mahkota Majapahit. Kecantikannya bukan hanya fisik, tapi juga jiwa.
🏛️ 7. AKHIR HAYAT DAN PEMULIAAN
Setelah wafat, Dyah Wiyat didharmakan (dimuliakan) di Candi Adilangu. Candi ini menjadi tempat penghormatan bagi para keturunannya dan masyarakat yang masih mengenang jasa-jasanya. Meski tidak semegah Candi Brahu atau Candi Tikus, Candi Adilangu menyimpan kenangan tentang seorang putri cantik yang menjadi penjaga tradisi dan pilar stabilitas Majapahit.
🔍 TELUSUR LEBIH DALAM
Setelah menelusuri jejak Dyah Wiyat, renungkanlah:
- ❓ Apakah kecantikan Dyah Wiyat hanya sekadar fisik, ataukah ada "kecantikan batin" yang membuatnya dihormati hingga akhir hayat?
- ❓ Bagaimana seorang putri yang sempat disekap bisa bangkit menjadi penasihat raja terbesar Majapahit?
- ❓ Apa yang bisa dipelajari dari sosok Dyah Wiyat tentang peran perempuan di balik layar kekuasaan?
🏮 KESIMPULAN
Dyah Wiyat adalah bukti bahwa di balik setiap raja besar, ada perempuan-perempuan hebat yang tak kalah penting. Ia bukan sekadar "adinda cantik" yang hanya menjadi perhiasan istana. Ia adalah pemikir, penasihat, dan penjaga tradisi yang turut membentuk kejayaan Majapahit.
Dari masa mudanya yang penuh tragedi, hingga masa tuanya yang dihormati raja, Dyah Wiyat menunjukkan bahwa kecantikan sejati adalah perpaduan antara paras rupawan, ketegasan hati, dan kebijaksanaan jiwa. Ia adalah intan kemilau dari Daha, permata yang tak pernah pudar dimakan zaman.
Dan ketika kita membaca namanya dalam lembaran sejarah, kita diajak untuk mengenang: bahwa perempuan Nusantara, sejak berabad lalu, telah menjadi kekuatan yang tak terpisahkan dari peradaban.
🔗 Baca Juga:
- Gayatri Rajapatni: Genius Politisi Majapahit, Rahim Peradaban Nusantara
- Tribhuwana Wijayatunggadewi: Ratu Majapahit ke-3
- Ken Dedes: Sang Rahim Bercahaya
🏛️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Mewarisi Api Pelopor Nusantara • Menelusuri Jejak Tokoh, Perempuan, dan Peradaban.
📌 Playlist Tutur Tinular
🔍 #DyahWiyat #BhreDaha #PutriMajapahit #PerempuanNusantara #KecantikanAbadi #EyangAnantaPrabhavasta
© 2026 MAJAPOST — Majapahit Official Story. Pusaka Obor Suryatikta: Menerangi Jejak Tokoh, Menjaga Marwah Bangsa.
"Dari masa silam, untuk masa depan yang terang."
⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Story. Gambar ilustrasi Dyah Wiyat dibuat berdasarkan interpretasi artistik dari sumber-sumber sejarah dan tradisi lisan.
MAJAPOST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar