Jumat, 31 Juli 2026

Ekonomi Pesantren Terpuruk, GBRAN Jatim Gali Potensi Tahu dan Ternak di Roudlotul As'adiyah

DPC Mojokerto Ahmad Beny, DPD Jatim Ahmad Sumedi, DPC Jombang Afif Abdillah, KH Ahmad Nawawi Habib
Ahmad Beny (DPC Mojokerto), Ahmad Sumedi (DPD Jatim), Afif Abdillah (DPC Jombang), dan KH. Ahmad Nawawi Habib (pengasuh Ponpes Roudlotul As'adiyah) dalam pertemuan di Semanding, Jogoroto, Jombang. (Foto: Istimewa)
Jumat, 31 Juli 2026  |  GBRAN, Jombang, Ponpes, Ekonomi

MAJAPOST.COM – GBRAN Jawa Timur kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia pesantren. Kali ini, tim gabungan DPD Jatim, DPC Mojokerto, dan DPC Jombang menyambangi Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an Roudlotul As'adiyah di Semanding, Jogoroto, Jombang, Jumat (31/7/2026).

Rombongan yang terdiri dari Ahmad Beny (DPC Mojokerto), Ahmad Sumedi (DPD Jatim), dan Afif Abdillah (DPC Jombang) ini disambut langsung oleh pengasuh pondok, KH. Ahmad Nawawi Habib. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, sang kyai melontarkan fakta mengejutkan: jumlah santri di pondoknya menyusut drastis karena kesulitan ekonomi.

87 Santri Bertahan di Tengah Keterbatasan

KH. Ahmad Nawawi Habib mengungkapkan, saat ini Ponpes Roudlotul As'adiyah hanya memiliki 87 santri. Angka ini jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya yang tembus di atas seratus. Penyebab utamanya adalah menurunnya kemampuan ekonomi pondok dalam membiayai operasional sehari-hari dan kebutuhan santri.

Kondisi kamar santri putra di Ponpes Roudlotul As'adiyah
Kondisi kamar santri putra di Ponpes Roudlotul As'adiyah yang masih sederhana. (Foto: Istimewa)
"Dulu santri kami lebih dari seratus. Sekarang tinggal 87. Ekonomi pondok menurun, kami kesulitan membiayai kebutuhan santri. Semoga ada perhatian dari pihak-pihak yang peduli."
— KH. Ahmad Nawawi Habib, Pengasuh Ponpes Roudlotul As'adiyah
Kamar mandi pondok
Kondisi kamar mandi pondok yang membutuhkan perbaikan. (Foto: Istimewa)

Di Balik Kesulitan, Terhampar Potensi Besar

Meski dilanda keterbatasan, tim GBRAN justru menemukan harta karun ekonomi yang selama ini terpendam di lingkungan pesantren. Di kompleks Roudlotul As'adiyah, sudah berdiri:

  • Pabrik tahu yang masih berproduksi, namun belum optimal karena minimnya modal dan pemasaran.
  • Peternakan sapi yang menjadi salah satu sumber penghidupan pondok.
  • Lahan kosong yang luas di bagian belakang, yang bisa disulap menjadi lahan produktif.
Halaman belakang pondok, rencana untuk pengembangan dan usaha pesantren
Lahan kosong di halaman belakang pondok yang menyimpan potensi ekonomi besar. (Foto: Istimewa)

Afif Abdillah, Ketua DPC GBRAN Jombang, langsung tergerak melihat potensi tersebut. Ia menilai, pabrik tahu dan peternakan sapi di pondok ini layak dikembangkan dengan pendampingan profesional agar bisa menjadi sumber pendapatan tetap bagi pesantren.

"Pondok ini punya potensi besar. Pabrik tahu, kandang sapi, dan lahan luas yang tersedia. Kami akan bantu kembangkan melalui program kemandirian pesantren. Insya Allah, dengan pendampingan yang tepat, pondok ini bisa bangkit kembali."
— Afif Abdillah, Ketua DPC GBRAN Jombang
Kandang sapi sebagai usaha pondok
Kandang sapi yang dikelola pondok sebagai salah satu sumber penghidupan. (Foto: Istimewa)
Afif dan kyai menunjukkan hasil produksi tahu
Afif Abdillah dan KH. Ahmad Nawawi Habib menunjukkan hasil produksi tahu dari pabrik pondok. (Foto: Istimewa)
Pabrik tahu pondok
Pabrik tahu pondok yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber pemasukan pesantren. (Foto: Istimewa)

One Pesantren One Product, Solusi Kebangkitan Ekonomi

GBRAN berkomitmen untuk menghidupkan program One Pesantren One Product di Roudlotul As'adiyah. Program ini akan fokus pada:

  • Pendampingan produksi tahu agar lebih higienis dan tahan lama.
  • Pengembangan peternakan sapi dengan sistem penggemukan yang lebih modern.
  • Pemanfaatan lahan kosong untuk pertanian atau budidaya lain yang bernilai ekonomi.

Dengan pendampingan dari GBRAN, diharapkan pondok ini tidak hanya kembali bangkit secara ekonomi, tetapi juga mampu mencetak santri-santri yang tidak hanya hafal Al-Qur'an, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan yang tangguh.

Gerbang Pondok Pesantren Roudlotul As'adiyah
Gerbang Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an Roudlotul As'adiyah di Semanding, Jogoroto, Jombang. (Foto: Istimewa)

Harapan untuk Masa Depan

KH. Ahmad Nawawi Habib berharap sinergi dengan GBRAN ini bisa menjadi titik balik kebangkitan bagi Roudlotul As'adiyah. Ia meyakini bahwa dengan pendampingan yang tepat, pondoknya bisa kembali jaya dan melahirkan generasi penghafal Qur'an yang mandiri secara ekonomi.

"Semoga GBRAN bisa menjadi jembatan bagi kami untuk mendapatkan perhatian dan bantuan. Kami ingin pondok ini kembali ramai seperti dulu, melahirkan santri-santri yang hafal Qur'an dan mandiri."
— KH. Ahmad Nawawi Habib

Pesan Redaksi: Potensi ekonomi pesantren seringkali terabaikan. GBRAN hadir untuk mengangkat dan memberdayakan, bukan dengan bantuan instan, tetapi dengan pendampingan berkelanjutan. Semoga ini menjadi inspirasi bagi ormas lain.

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : MAJAPOST.COM

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Database Artikel

    paling banyak dibaca

      Tutup [x]