Mengenal Kurikulum Berbasis Cinta (KBC): Panduan Transformasi Pendidikan Islam Menurut Ibu Suldiah Rahmawati, SPd.SD
Implementasi Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025 menandai babak baru dalam sistem pendidikan madrasah di Indonesia. Ibu Suldiah Rahmawati, S.Pd.SD, pendidik dari MI Insan Mulia Badung, Bali, memaparkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukanlah sekadar materi tambahan, melainkan rekayasa sistemik untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, dan naturalis.
Menurut Ibu Suldiah, kurikulum ini dirancang dengan empat fase utama yang disebut sebagai alur 4D: Discovery, Dream, Design, dan Destiny. Fase-fase ini bertujuan untuk menggeser paradigma pendidikan dari kompetisi yang kaku menuju kolaborasi yang berlandaskan kasih sayang.
1. Landasan Filosofis: Antara Ontologi dan Sympathea
Ibu Suldiah menjelaskan bahwa secara ontologis, KBC memandang Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang manunggal (mushmat). Di dalamnya bekerja mekanisme Sympathea atau simpati kosmis. "Artinya, setiap elemen kehidupan adalah cerminan dari Pencipta. Tindakan kekerasan atau bullying di sekolah bukan hanya pelanggaran disiplin, tetapi pelanggaran terhadap prinsip harmoni alam," urai beliau.
Dalam perspektif epistemologis, belajar harus menjadi pengalaman nyata (hudhuri). Pengetahuan tidak boleh dipisahkan dari subjeknya; siswa tidak hanya menghafal teks, tetapi merasakan kebenaran ilmu melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan sesama.
2. Tantangan Implementasi di Tingkat Madrasah Ibtidaiyah
Sebagai praktisi di Bali, Ibu Suldiah mengakui bahwa kurikulum ini memerlukan bimbingan intensif agar dapat "landing" dengan sempurna. Tantangan terbesar bagi para guru madrasah saat ini adalah melakukan diseminasi konsep yang abstrak menjadi praktik kelas yang konkret. Beliau aktif memberikan panduan bagi rekan sejawat untuk memahami bahwa setiap tindakan edukatif harus didasari oleh ketulusan dan pengendalian ego.
Bimbingan yang diberikan Ibu Suldiah mencakup penyesuaian indikator pembelajaran yang tidak lagi bersifat kaku. Madrasah diberikan keleluasaan untuk memodifikasi metode sesuai kebutuhan lokal, asalkan tetap memegang prinsip The Golden Rule: memperlakukan siswa sebagaimana guru ingin diperlakukan.
3. Menuju Destiny: Dampak Jangka Panjang KBC
Fase akhir dari kurikulum ini adalah Destiny, yaitu memastikan keberlanjutan dampak. Ibu Suldiah menekankan bahwa KBC bertujuan menciptakan Theory of Change yang nyata: perubahan dari masyarakat yang individualistik menuju masyarakat yang inklusif dan berempati. Hal ini melibatkan peran aktif orang tua dan masyarakat luas dalam mendukung ekosistem pendidikan yang sehat.
"Kurikulum ini adalah solusi atas defisit cinta yang memicu berbagai krisis kemanusiaan saat ini. Melalui bimbingan dan sosialisasi yang berkelanjutan, kita berharap setiap madrasah mampu menjadi tempat persemaian cinta yang luhur," pungkas Ibu Suldiah. Dengan pendekatan yang tepat, KBC akan menjadi warisan berharga bagi generasi masa depan Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar