Jumat, 20 Februari 2026

Keris Mpu Gandring: Pusaka Kontroversial, Kutukan Tujuh Turunan yang Mengguncang Singhasari

MAJAPOST — MAJAPAHIT OFFICIAL SITE

KERIS MPU GANDRING: PUSAKA KONTROVERSIAL, KUTUKAN TUJUH TURUNAN YANG MENGGUNCANG SINGHASARI

Senjata Sakti yang Menjadi Pemantik Lahirnya Kerajaan Singhasari dan Majapahit
📜 Dokumentasi Pustaka Suryatikta⚔️ Pusaka & Ajian📅 2026 Saka
Menyongsong Kebangkitan Nusantara
Keris Mpu Gandring - Pusaka Kontroversial Singhasari
Keris Mpu Gandring — Pusaka sakti yang dibuat oleh Mpu Gandring atas pesanan Ken Arok, menjadi pemantik konflik berdarah di Singhasari.
🖼️ Rekonstruksi visual Keris Mpu Gandring

🪶 TELUSUR MAJAPOST
Di balik gemerlapnya kejayaan Singhasari dan Majapahit, tersimpan kisah kelam tentang sebuah pusaka yang lahir dari ambisi, ketidaksabaran, dan pengkhianatan. Keris Mpu Gandring, dibuat dalam waktu semalam oleh seorang empu sakti, menjadi senjata pertama yang menumpahkan darah pembuatnya sendiri. Dengan kutukan tujuh turunan yang melekat padanya, keris ini menjadi saksi bisu terbunuhnya Tunggul Ametung, Ken Arok, Anusapati, hingga Tohjaya. Mari menelusuri jejak berdarah pusaka paling kontroversial dalam sejarah Nusantara.

Nama Pusaka: Keris Mpu Gandring
Pembuat: Mpu Gandring
Pemesan: Ken Arok
Masa Pembuatan: Akhir abad ke-12 / awal abad ke-13
Lokasi: Singhasari (Malang, Jawa Timur)
Kutukan: 7 turunan Ken Arok akan tewas oleh keris ini
Korban Tercatat: Mpu Gandring, Kebo Ijo, Tunggul Ametung, Ken Arok, Ki Pengalasan, Anusapati, Tohjaya, Ken Dedes
Akhir Pusaka:
Dibuang ke kawah Gunung Kelud

Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singhasari, termasuk pendiri dan pemakainya sendiri, Ken Arok. Menjadi pusaka paling kontroversial dalam sejarah Nusantara, keris ini menjadi pemantik lahirnya dinasti Rajasa yang kemudian menurunkan raja-raja Singhasari dan Majapahit.

⚔️ PESANAN KEN AROK KEPADA MPU GANDRING

Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, seorang tokoh penyamun yang menurut brahmana Lohgawe adalah titisan Wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu.

Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" ke dalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut. Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna, bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu, Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut.

Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan harus diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut, dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat). Selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya).

"Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok."

💀 TUJUH TURUNAN KEN AROK: KORBER DARAH KERIS MPU GANDRING

Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam sejarah dan legenda yang kita ketahui, tercatat ada 8 orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring:

1
Mpu Gandring — Sang pembuat keris, korban pertama yang tewas oleh keris buatannya sendiri.
2
Kebo Ijo — Rekan Ken Arok yang dipinjamkan keris ini sebagai kambing hitam atas rencana pembunuhan Tunggul Ametung.
3
Tunggul Ametung — Penguasa Tumapel saat itu, dibunuh Ken Arok untuk merebut istrinya, Ken Dedes.
4
Ken Arok — Pendiri Kerajaan Singhasari, terbunuh oleh keris ini atas perintah anak tirinya, Anusapati.
5
Ki Pengalasan — Pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok, kemudian dihabisi oleh Anusapati untuk menghilangkan jejak.
6
Anusapati — Anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung, terbunuh oleh Tohjaya menggunakan keris yang sama.
7
Tohjaya — Putra Ken Arok dari selir Ken Umang. Tidak tewas langsung oleh keris, tetapi terluka parah dan akhirnya tewas.
8
Ken Dedes — Istri Tunggul Ametung yang kemudian diperistri Ken Arok. Menurut legenda, ia juga tewas oleh keris ini.

🎯 TERBUNUHNYA TUNGGUL AMETUNG

Tunggul Ametung adalah kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia".

Sebelum membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya ke mana-mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo dengan keris pusaka itu.

🗡️ TERBUNUHNYA KEN AROK

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung, dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.

Kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok, mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes, dan bertekad untuk menuntut balas. Anusapati merancang pembalasan dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.

Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka yang dimilikinya. Melihat ceceran darah pada keris Mpu Gandring, ia merasa ketakutan, terlebih terdengar suara gaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring, dan serta merta membantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping, bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang.

Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

⚡ TERBUNUHNYA ANUSAPATI DAN AKHIR KISAH

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, tetapi tidak lama. Tohjaya, putra Ken Arok dari Ken Umang, akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu dan menuntut balas. Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring dan langsung membunuhnya di tempat.

Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja. Namun ia tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidakpuasan baik di kalangan rakyat maupun elit istana, di antaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan ini berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan membawa masa damai bagi Singhasari.

Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya. Menurut beberapa sumber spiritual, keris ini kemudian diambil oleh raja Jawa yang memiliki kesaktian luar biasa untuk memusnahkan keris itu dengan membuangnya ke kawah Gunung Kelud di Jawa Timur.

🔮 KUTUKAN YANG TERWUJUD

Menarik untuk dicermati, kutukan Mpu Gandring tentang "tujuh turunan" ternyata terwujud dengan sempurna. Meskipun jumlah korban tercatat ada delapan (termasuk Mpu Gandring sendiri dan Ken Dedes), namun jika dihitung dari garis keturunan Ken Arok, tepat tujuh orang dari trahnya yang tewas oleh keris ini: Kebo Ijo (rekan, bukan keturunan), Tunggul Amung (bukan keturunan), Ken Arok sendiri, Ki Pengalasan (bukan keturunan), Anusapati (anak tiri), Tohjaya (putra), dan Ken Dedes (istri). Keris ini menjadi simbol bahwa ambisi, ketidaksabaran, dan pengkhianatan akan berujung pada kehancuran, bahkan bagi keturunan pelakunya sendiri.

"Dari ketidaksabaran Ken Arok yang menuntut keris dalam semalam, lahir kutukan yang membayangi tujuh turunannya. Sebuah pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan ambisi tanpa kesabaran hanya akan melahirkan petaka." — Pustaka Suryatikta

🪶 TELUSUR LEBIH DALAM

Setelah menelusuri jejak berdarah Keris Mpu Gandring, renungkanlah:

❓ Apa makna dari kutukan "tujuh turunan" dalam kosmologi Jawa kuno?

❓ Bagaimana keris yang sama bisa terus digunakan untuk membunuh, padahal telah dihancurkan?

❓ Dari kisah ini, apa yang bisa kita petik tentang ambisi, kesabaran, dan konsekuensi tindakan?

"Setiap orang bisa melihat bilah keris, tapi hanya penelusur sejati yang menangkap makna di balik setiap tetes darahnya."

🏮 KESIMPULAN

Keris Mpu Gandring bukan sekadar senjata pusaka biasa. Ia adalah simbol ambisi, ketidaksabaran, dan pengkhianatan yang melahirkan kutukan lintas generasi. Dari bilahnya yang tajam, lahir dan runtuh para penguasa Singhasari. Dari darah yang menetes di ujungnya, mengalir takdir yang tak terelakkan. Keris ini menjadi saksi bahwa kejayaan sebuah dinasti seringkali diawali dengan noda yang tak terhapuskan. Dan ketika akhirnya ia tenggelam dalam kawah Gunung Kelud, kutukannya berakhir, namun kisahnya abadi sebagai pengingat bagi generasi penerus.

"Keris Mpu Gandring — dari ketidaksabaran, lahir kutukan. Dari ambisi, lahir kehancuran."

📚 Referensi: Pararaton, Kitab Para Raja. Serat Kanda. Babad Tanah Jawi. Sumber-sumber sejarah dan tradisi lisan Nusantara.
⚠️ MAJAPOST — Majapahit Official Site. Gambar merupakan rekonstruksi visual. Artikel disusun dari berbagai sumber sejarah dan tradisi lisan, terutama Serat Pararaton dan Babad Tanah Jawi.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Smart Recommendations
Smart Recommendations

Database Artikel

    paling banyak dibaca