Unik! Meski Mayoritas Kristen, 90 Persen Pria Filipina Ternyata Sudah Disunat, Ini Alasannya
Fenomena ini tergolong unik secara global. Jika di banyak negara Barat sunat sering kali menjadi bahan perdebatan medis, di Filipina, hal ini adalah sebuah keharusan budaya. Tahukah Anda bahwa meskipun populasi Muslim di Filipina hanya berkisar 6 persen menurut data terbaru 2026, prevalensi pria yang disunat di negara ini justru mencapai angka fantastis, yakni lebih dari 90 persen.
Sejarah mencatat bahwa Filipina berada di bawah kolonialisme Spanyol selama lebih dari 300 tahun, yang secara masif menyebarkan agama Katolik. Namun, akar budaya sunat ternyata jauh lebih dalam dari pengaruh kolonial tersebut. Antropolog mencatat bahwa tradisi ini sudah masuk ke kepulauan Filipina sejak kedatangan Islam pada tahun 1450, jauh sebelum kapal-kapal Spanyol berlabuh.
Bagi masyarakat Filipina, sunat bukan sekadar prosedur medis atau kewajiban agama, melainkan sebuah ritual "Rites of Passage" atau peralihan menuju masa dewasa. Seorang remaja pria yang belum disunat sering kali mendapatkan tekanan sosial yang besar dari teman sebayanya. Julukan pengecut adalah stigma yang sangat dihindari oleh para pemuda di sana.

Momen emosional: Prosesi sunat di Filipina seringkali dianggap sebagai ujian keberanian fisik dan mental bagi seorang laki-laki.
Transformasi Menjadi Laki-Laki Sejati
Setelah menjalani prosesi sunat, seorang anak laki-laki di Filipina akan diperlakukan secara berbeda oleh keluarga dan komunitasnya. Mereka dianggap telah meninggalkan masa kanak-kanak dan siap memikul tanggung jawab yang lebih besar sebagai pria. Kedewasaan ini diukur dari keberanian mereka menghadapi rasa sakit selama prosesi berlangsung tanpa keraguan.
Nilai-nilai maskulinitas ini sangat dijunjung tinggi. Anak yang sudah disunat diharapkan bisa menjadi pelindung bagi adik-adiknya dan membantu beban orang tua. Di banyak wilayah, momen ini juga dirayakan sebagai bentuk kebanggaan keluarga, mirip dengan euforia khitanan yang sering kita jumpai di berbagai daerah di Indonesia.
Menariknya, tuntutan untuk menjadi berani ini terkadang dilakukan dengan metode yang masih tradisional di beberapa daerah pedalaman. Keberanian menghadapi "meja operasi" darurat menjadi cerita heroik yang akan mereka bawa hingga dewasa. Ketangguhan mental seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan kita saat ini untuk tetap fokus dan produktif di dunia kerja yang penuh tantangan.
Dukungan Pemerintah dan Peran Komunitas
Pemerintah Filipina secara aktif mendukung kelestarian tradisi ini melalui program sunatan massal tahunan. Biasanya, acara ini digelar secara besar-besaran pada bulan April hingga Mei, bertepatan dengan masa libur sekolah. Program ini sangat membantu warga yang memiliki keterbatasan finansial untuk menyunatkan anak-anak mereka secara gratis dan aman.
Fasilitas publik seperti gedung olahraga dan sekolah sering kali dialihfungsikan menjadi pusat khitanan massal. Ratusan anak akan mengantre dengan tertib, didampingi oleh orang tua mereka yang tak kalah tegang. Dukungan komunitas dalam penyelenggaraan acara ini membuktikan bahwa gotong royong masih menjadi fondasi kuat dalam masyarakat Filipina modern.
Kegiatan ini juga menjadi momen edukasi kesehatan bagi masyarakat. Sambil menunggu antrean, para orang tua sering diberikan tips mengenai higienitas dan perawatan pasca-sunat. Kebersihan diri adalah kunci utama, sebagaimana pentingnya kita menjaga kebersihan lingkungan harian, termasuk tips mengatasi bau tak sedap secara praktis yang sering kita temui di sekeliling kita.
Baca Juga: Kejutan Emas Gaon Choi di Olimpiade Musim Dingin 2026
Tantangan dan Adaptasi di Era Digital
Di era digital seperti sekarang, tradisi sunat di Filipina juga mulai beradaptasi dengan teknologi medis yang lebih modern. Meskipun metode tradisional masih ada, penggunaan laser dan teknik minim rasa sakit mulai populer di kota-kota besar seperti Manila dan Cebu. Namun, esensi nilai budayanya tetap tidak bergeser sedikit pun.
Para remaja Filipina kini juga sering berbagi pengalaman mereka melalui media sosial, menjadikan momen transisi ini sebagai konten yang memotivasi sesama. Tren ini menunjukkan bahwa tradisi kuno bisa tetap relevan dengan gaya hidup Gen-Z. Anda juga bisa mengeksplorasi panduan outfit trend masa kini untuk menunjang kepercayaan diri setelah melewati fase kedewasaan tersebut.
Kesimpulan: Identitas Budaya yang Tak Tergoyahkan
Filipina telah membuktikan bahwa mayoritas agama tidak selalu menghapus tradisi lama yang sudah mengakar. Sunat telah menjadi identitas nasional yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat di sana. Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa menghormati akar budaya adalah kunci untuk menjaga jati diri di tengah arus globalisasi yang semakin kencang.
Ikuti terus ulasan mendalam mengenai fenomena mancanegara dan perkembangan dunia lainnya hanya di Majapost. Kami juga menyajikan berbagai artikel menarik mulai dari fashion viral hingga tips gaya hidup yang bermanfaat untuk keseharian Anda.
(Redaksi Majapost)
ADVERTISEMENT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar