Breaking News

8/recent/ticker-posts

Header

Pohon Beringin Penaung Makam Mbah Waliwonosegoro Wonosalam Jombang Dijarah, Para Peziarah Kesal

Makam Mbah Waliwonosegoro sebelum pohon beringin dijarah

Kyahi Singa Suta Wonosegoro atau yang lebih dikenal dengan Mbah Waliwonosegoro menurut sejarah turun temurun masyarakat Desa Wonosalam Jombang merupakan cicit dari Pangeran Benowo atau Sultan Hadiwijaya II (1617). 

Sedangkan Pangeran Benowo Sendiri adalah putra Joko Tingkir atau Sultan Hadi Wijaya I yang berkuasa di Kerajaan Pajang (1581-1603 Tahun Jawa). Sililah Beliau secara lengkap dapat di lihat atau tertulis di Tempat Wisata Lembah Giri yang berada dekat di lokasi makam. 

Selama hidupnya Mbah Waliwonosegoro mengabdikan diri untuk berdakwah menyebarkan agama islam meneruskan perjuangan para pendahulunya. Sampai akhirnya bertapa atau menyepi dan meninggal di Gunung Kuncung, Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, Jombang.

Makam Mbah Waliwonosegoro berada di area Perhutani dengan luas 0,5 hektar yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Sedangkan kuncen atau juru kunci makam dipercayakan kepada Bapak Tasrip dan Wakilnya Choirul A yang mengaku biasa di pangil Kang Cokro.

Setiap hari banyak peziarah yang datang melakukan ritual di tempat tersebut sebagaimana banyak dilakukan oleh masyarakat muslim di makam para Wali atau Ulama. Menurut Kang Cokro : "Setiap hari tempat ini cukup ramai di kunjungi peziarah, menurut buku tamu antara 25 sampai dengan 30 orang di hari biasa."

Namun akhir akhir ini para peziarah mulai resah dengan kejadian penjarahan pohon beringin yang terletak tepat di belakang pusara beberapa minggu lalu. Pohon tersebut menjulang tepat diatas makam sehingga titik lokasi makam diayomi oleh pohon tersebut.

Kunto Hartono seorang drumer pemegang rekor dunia bermain drum 135 jam asal Surabaya yang juga sering berziarah ke makam mengaku mendapat isyarah tentang pengerusakan Situs Gunung Kuncung. Yang kemudian karna mimpinya tersebut dia datang ke lokasi dan menemukan pohon beringin tersebut sudah di tebang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kunto sempat kesal dan menanyakan perihal tersebut kepada juru kunci, namun tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Begitu juga para pelaku spiritual asal Jombang, Mojokerto, dan beberapa daerah lain. 

Kang Cokro menuturkan : "Saya sering dapat telepon dari teman teman pelaku spiritual mas, menanyakan kenapa pohon beringinya di potong ? Tapi saya gak bisa jawab, soalnya waktu kejadian saya sedang ke Surabaya."

"Saya juga sudah menanyakan ke LMDH, katanya juga tidak tahu, tidak ada yang pernah mangajukan ijin pemotongan pohon, kalaupun ada LMDH pasti tidak mengijinkan karena itu melanggar aturan." pungkasnya

Rudi seorang peziarah asal Surabaya juga menyampaikan kekesalan serupa, bahkan mengecam tindakan tersebut sebagai suatu kegiatan ilegal melanggar Undang Undang Nomor. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan atau Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H), karena pohon tersebut didalam lokasi Situs di area Perhutani tidak bisa sembarangan di tebang.

Seorang Warok dari Ponorogo juga pernah datang setelah mendapatkan isyaroh dalam meditasinya dan menyatakan kekesalannya karena pohon beringin yang seharusnya menjadi pengayom makam dan mahluk mahluk baik kasat mata maupun tak kasat mata disekitarnya dirusak.  

Kondisi saat ini tempat bekas pohon beringin itu tumbuh di tutup dengan bata melingkar mirip sebuah sumur yang di isi dengan pasir.

Sedangkan patung Burung Garuda yang menempel dipohon digeletakkan begitu saja bersama potongan batang tempat patung tersebut berada. dan sampai saat ini belum jelas siapa pelakunya.

Posting Komentar

0 Komentar