Breaking News

8/recent/ticker-posts

Header

Sisa Tabungan 1,5 Juta Jadi Usaha Omzet Jutaan Perhari, Warga Puri Mojokerto Ini Selamat Dari Badai Pandemi

 

Berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak april 2020 membuat dunia usaha mengalami keterpurukan di seluruh tanah air. Masyarakat dipaksa harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan hidup selama masa pandemi ini, pada bulan mei pengurangan gaji dan PHK pun mulai terjadi.

Hal ini praktis mengurangi daya beli masyarakat dan melemahkan dunia usaha, penghasilan berkurang drastis, dan tak sedikit pengusaha yang harus gulung tikar. Begitu pula dengan pria yang akrab di panggil Mas Tri, warga Jalan Raya Puri RT 01 RW 01 Dusun Tegalsari, Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Pengusaha konveksi ini harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan dan mempertahankan 14 orang karyawannya.

Saat dikunjungi majapost, Mas Tri banyak cerita : "Sejak mulai awal pandemi orderan konveksi terus menurun dengan cepat, bohong sekali kalo ada usaha yang gak kena imbas pandemi. Untung saya masih punya tabungan untuk dukungan modal agar karyawan saya tetap bekerja, tapi lama lama nipis juga. kalau sekarang sih sudah berangusur pulih."

"Sampai akhirnya saya ada sisa tabungan 1,5 juta, saya coba nekad jualan tembakau. Awalnya dari teman ke teman, terus lancar dari omzet perbulan 4 juta sekarang sudah hampir 30 juta perbulan. Dari hasil penjualan saya buat modal lagi dan bikin toko kecil kecilan namanya Toko Tembakau dan Wedangan Anucara, total modal sekarang sudah 15 an juta."

 "Jadi usaha konveksi saya selamat dari badai pandemi, malah sekarang udah nambah usaha baru jualan tembakau, Alhamdulillah sama sama jalan, dan secara keuntungan total hampir sama dengan sebelum pandemi, pastinya kedepan lebih besar karena usaha konveksi sendiri sudah mengalami peningkatan."

Sablon Kaos Mojokerto

Kompetitor di Mojokerto utuk bisnis tembakau apakah sudah banyak ? Mas Tri mengungkapkan : "Di bilang banyak masih belum terlalu banyak, masih sangat prospek."

"Bedanya kebanyakan penjual tembakau di Mojokerto belum dikelola secara baik, masih belum punya tempat usaha atau toko, masih jual di rumah rumah dari teman ke teman seperti yang saya lakukan dulu."

"Alhamdulillah, produk saya lengkap dengan berbagai varian rasa, dan semuanya ada cukainya bukan produk ilegal, bisa di cek ! Saya gak berani melanggar aturan."

Konsumen terbesar dari mana ? Jawab Mas Tri : "Awalnya anak anak muda yang penghasilannya berkurang atau korban PHK akibat pandemi, mereka beralih ke tembakau demi menghemat pengeluaran. Namun penikmat tembakau murni dan orang orang tua sekarang juga sudah banyak."

Tim majapost pun mengkonfirmasi apakah rahasia usaha ini boleh di bocorkan ke media ? Mas Tri dengan santai menjawab : "Ndak papa mas, kalau memang bisa memberi manfaat bagi orang lain malah saya bersyukur." pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar